Sponsors

"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik." Luk. 4:18"

Theme Support

Agenda. ----- Retreat Presbiter GPIB Sejahtera Bandung, Sekesalam 27-28 Januari 2017, Pembina: Pdt Susy Rumeser-Thomas, MTh dan Pdt Stephen Sihombing, MTh ----- Penggalangan Dana Panitia Pembangunan gereja GPIB Sejahtera bandung, Minggu 22 Januari 2017 jam 08.00 WIB PF. Pdt. Jacoba Marlene Joseph, MTh ---- PS GPIB ke-XX 26-31 Oktober 2015, Swiss Bell Hotel, Balikpapan, Kalimantan Timur ---- Ibadah Minggu 26 Juli 2015 jam 07.00 --- Ibadah Nuansa Budaya Minahasa Minggu 26 Juli 2015 jam 09.00 Pdt. Drs. J. Sompotan, S.Th dan Pembinaan Presbiter Sabtu 25 Juli 2015 jam 17.00 ---- PF Minggu 19 Juli 2015 Sejahtera bandung 07.00 dan 09,00 --- Perjamuan Kudus Minggu 12 Juli 2015 Sejahtera Bandung 07.00 ---- Pembahasan Rantap PS XX GPIB di Hotel Marbela Bandung --- PF Minggu 5 Juli 2015 Sejahtera Bandung 07.00 dN 09.00 Peneguhan Pelayan dan Pengurus ke - 6 Pelkat --- PF Minggu 10 Nov 2013 di Jemaat Pondok Ungu jam 06.00 dan 10.00 --- Perayaan HUT GPIB ke-65, Selasa 5 Nov 2013 di Tenis Indoor Senayan Jakarta --- Pembinaan Penelaahan Alkitab di Wisma Kinasih, Bogor, Minggu 3 November 2013 ---- PF di jemaat Pondok Ungu Bekasi dan jemaat GPIB Kharis Jakarta 30 Juni 2013 ----- Pemilihan Korwil Pelkat Mupel Bekasi 4 Mei 2013 di jemaat GPIB Gloria Bekasi ----- Sertifikasi Pengajar katekisasi 18-20 April 2013 di MDC Gadog ---- Sidang tahunan dan Sidang Wilayah Mupel Bekasi 4-5 Maret 2013 di MDC Gadog ---- PF di Jemaat Pondok Ungu jam 6 dan 10.00 serta di Gloria Bekasi Minggu 3 Maret 2013 jam 17.30 WIB ---- PF di Jemaat Zebaoth Bogor beserta PS Jemaat GPIB Pondok Ungu jam 09.00 wib --- Pembinaan pelkat di Jemaat GPIB Marturia Jakarta Timur 2 Maret 2013 jam 18.30 ---- Lokakarya RKA GPIB Pondok Ungu, 1-2 maret 2013 di Vila Saiya Cipayung, Bogor --- PST GPIB di Makassar 19-21 Februari 2013 ---PF di GPIB Pondok Ungu jam 10.00 dan di GPIB Efatha Jakarta jam 17.00 Minggu 10 Februari 2013 --- SMJ GPIB Pondok Ungu Triwulan 3, Minggu 10 Februaru 2013 ---- Peneguhan Pelkat GPIB Pondok Ungu 3 Februari 2012 oleh Pdt PH Sitorus, MSi ----- Perjamuan Kudus 10 Oktober 2012 di GPIB Pondok Ungu, jam 06.00 dan 10.00 WIB, ---- Peneguhan Diaken dan Penatua GPIB Pondok Ungu 2012-2017 pada Minggu, 23 September 2012 yang dilayani peneguhannya oleh Pdt. Marlene Josep, STh dan didampingi Pdt. SGR Sihombing, MTh, Pdt. Kolanus, MMin, Pdt. Hilda Sihasale, MMin, Pdt. Dina haba STh ---- Perjamuan Kudus Minggu Pentakosta, Minggu, 1 Juli 2012 jam 06.00 dan 10.00 WIB, Pemilihan Diaken dan Penatua GPIB Tahap Penetapan pada hari Minggu, 1 Juli 2012, Lokakarya Penulisan Sabda GPIB, 5-6 Mei 2012, TOT Pendeta materi bina diaken dan penatua, 3-4 Mei 2012 di Kinasih, Caringin Bogor, Lokakarya Materi Bina tahap II, 30 April-2 Mei 2012 di Ruang MS GPIB, Pelayanan Ibadah Minggu, 29 April 2012, Pelayanan Ibadah Minggu 31 Juli 2011 di jemaat GPIB PUP jam 10.00 wib --- SMJ GPIB PUP Triwulan 1, 31 Juli 2011 jam 12.00 wib, --- Pelayanan Ibadah Minggu, 22 Mei 2011 di jemaat GPIB Harapan Kasih jam 09.00 wib ---- 15 Mei 2011 di jemaat GPIB Menara Kasih, Bekasi, --- 8 Mei 2011 di jemaat GPIB Sion, Jakarta Barat jam 10.00 wib dan GPIB Efatha, Jakarta Selatan jam 17.00 wib, --- Pelayanan Ibadah Minggu, 1 Mei 2011, GPIB Pondok Ungu, Bekasi jam 06.00 wib dan 10.00 wib --- Ibadah Paskah, Minggu 24 April 2011, jam 05.00 wib ---- Perjamuan Kudus Jumat Agung, 22 April 2011, jam 06.00 dan 10.00 wib ---- Peneguhan anggota sidi baru, 17 April 2011, jam 10.00 wib ----, Retret Katekisasi terpadu GPIB Pondok Ungu, Harapan Indah, Harapan Baru dan Dian Kasih, 1-3 April 2011,---- Lokakarya Penyusunan RKA Sabtu, 26 Maret 2011 jam 13.00 --- Sidang Majelis Jemaat Triwulan 4, Minggu 24 April 2011, jam 12.00 WIB ---Pelayanan Minggu di jemaat GPIB Anugerah Bekasi jam 09.00 dan GPIB Harapan Kasih jam 18.00 ---.

Selasa, 19 April 2011

POLOPADANG

rumahgambar.com
Mengapa di Toraja tidak ada buaya?
Semasa kecil, pertanyaan ini sering menjadi bahan cerita di antara kami. Ketika mandi di Sungai Sa’dan,
topik ini kadang kami obrolkan sambil menggosoki daki yang menempel di badan dengan batu-batu
sungai. Sesekali, puarang (biawak) – yang secara fisik mirip dengan buaya – melintas di seberang sungai.
Kami kemudian berlari ketakutan, pulang ke rumah masing-masing. Takut karena meyakini baru saja
melihat buaya, juga karena omelan dan (kadang) jeweran yang sudah menanti di rumah. (Mandi di
sungai tidak pernah disarankan oleh orangtua kepada kami).

Lalu, kisah ini dilisankan kepada kami. Kisah tentang seorang lelaki yang menempuh perjalanan panjang
dari bumi hingga ke langit demi mendapatkan kembali anak lelakinya. Sebuah petualangan yang
menjelaskan banyak hal, termasuk mengapa di Toraja tidak ada buaya, juga mengapa orang Toraja tidak
boleh mengonsumsi daging tedong bulan (kerbau putih).

Tersebutlah sebuah nama: Polopadang. Seorang lelaki pemilik kebun yang tinggal di daerah Buntu
(Bukit) Sarira. Di dalam kebunnya, ada sebuah kolam berair jernih. Polopadang seringkali heran karena
buah kaise’-nya – sejenis tumbuhan kecil dengan buah berwarna merah berbentuk seperti buah pinang
– yang sudah hampir matang selalu saja dicuri orang. Setahunya, tidak ada binatang apapun yang suka
makan kaise’. Ia curiga pasti ada orang yang telah mencurinya. Pagi hari, ketika ia sampai di kebunnya,
buah-buah kaise’ yang seharusnya sudah matang sudah tidak ada lagi di tempatnya. Karena kejadian itu
berulang-ulang, maka pada suatu malam Polopadang sengaja menginap di kebunnya untuk mencari
tahu siapa yang mencuri buah kaise’-nya.

Maka ketika purnama tak terlalu penuh, Polopadang menunggu dengan dada berdebar. Beberapa lama
setelah malam memulai durasinya, Polopadang mendengar suara cekikikan dari kejauhan. Polopadang
segera mendekati sumber suara dan terkejut ketika mendapati beberapa perempuan sedang asyik
bermain sambil mandi di kolam yang terletak di kebunnya. Ia segera bersembunyi di balik pohon.
Polopadang terpana menyaksikan perempuan-perempuan cantik yang sedang bercengkerama sambil
mengunyah buah-buah kaise’ yang ia yakini adalah kaise’ yang mereka ambil dari kebun miliknya.
Melihat rupa wajah mereka, Polopadang menduga perempuan-perempuan itu adalah makhluk dari
langit. Sebelumnya, ia tak pernah melihat perempuan penghuni bumi yang memiliki wajah secantik itu.
Polopadang lalu melihat setumpuk kain berwarna-warni yang teronggok di permukaan batu, tak jauh
dari kolam itu. Polopadang berjalan mengendap-endap ke batu itu dan mengambil salah satu di
antaranya.

Ketika perempuan-perempuan itu hendak kembali ke langit, salah seorang di antaranya yang adalah
putri bungsu dari khayangan terkejut karena mendapati bajunya sudah hilang. Tak punya pilihan lain,
putri bungsu itu kemudian ditinggalkan oleh kakak-kakaknya. Polopadang lalu menghampiri putri
bungsu bernama Indo’ Deatanna itu untuk mengembalikan bajunya.

“Ternyata, kamu yang selama ini sudah mencuri kaise’ saya,” ucap Polopadang sambil tersenyum.
“Karena kamu sudah mencuri, maka sebagai hukumannya, kamu harus bersedia menjadi istri saya.”
Indo’ Deatanna yang tidak punya alasan apapun untuk membela diri kemudian menerima tawaran
Polopadang. “Apa boleh buat karena saya memang mencuri kaise’-mu. Namun, saya ingin mengajukan
syarat. Kamu harus berjanji untuk tidak mengucapkan kata-kata kasar atau makian jika sudah menikah
dengan saya.”

Singkat cerita, Polopadang kemudian menikah dengan Indo’ Deatanna. Tak lama kemudian, mereka
memiliki seorang anak lelaki yang diberi nama Paerunan. Suatu ketika, Paerunan bermain dengan gasing
emasnya di halaman rumah. Saat itu, Polopadang sedang membelah kayu tak jauh dari tempat Paerunan
bermain. Sementara, Indo’ Deatanna sedang menenun di teras rumah. Tiba-tiba, Paerunan
melemparkan gasing emas itu dan mengenai mata kaki Polopadang. Karena terkejut, Polopadang
spontan mengumpat.

“Buaya! Pepayu! (kata makian kasar dalam bahasa Toraja) Gasing emasmu mengenai mata kakiku,
Paerunan!” Polopadang mengelus mata kakinya yang terasa sakit terkena gasing emas milik Paerunan.
Mendengar umpatan itu, Indo’ Deatanna segera berhenti menenun dan meninggalkan kain tenun yang
belum selesai. Ia berjalan menghampiri Paerunan lalu tanpa pamit ia meninggalkan Polopadang dan
membawa Paerunan ke langit. Mereka meniti pelangi kembali ke tempat tinggal Indo’ Deatanna di
langit.

Polopadang segera menyadari kesalahannya. Ia teringat janji yang ia ucapkan sebelum menikah dengan
Indo’ Deatanna untuk tidak mengucapkan kata-kata kasar. Polopadang sungguh menyesal lalu bertekad
untuk datang ke langit meminta maaf sekaligus mengajak Indo’ Deatanna dan Paerunan kembali ke
bumi.

Namun, Polopadang hanyalah manusia biasa. Ia tak bisa meniti pelangi untuk menuju ke langit. Satusatunya
jalan adalah berjalan menuju cakrawala agar bisa memanjat ke langit. Pertama, Polopadang
bermaksud untuk menuju ke tepi laut. Ia berjalan menuruni bukit dan lembah, namun tepi laut tak
kunjung tampak. Ia lalu menangis. Sesekor kerbau putih kemudian muncul dan bertanya kepada
Polopadang.

“Apakah gerangan yang membuatmu menangis?” tanya kerbau bule itu.
“Anakku, Paerunan dibawa oleh ibunya ke langit. Saya bermaksud mencarinya dan membawanya
kembali. Untuk itu, saya ingin menuju ke tepi laut.”

Kerbau putih itu lalu menawarkan diri untuk membawa Polopadang ke tepi laut. “Tapi kamu harus
berjanji bahwa kelak keturunanmu tidak boleh memakan daging keturunanku.” Kerbau putih itu
mengajukan syarat yang disepakati oleh Polopadang.
Sampai di tepi laut, Polopadang hendak menyeberang namun tak kuasa melihat lautan yang mahaluas.
Ia menangis lagi. Seekor buaya putih datang menghampiri lalu bertanya, “Kenapa kamu menangis,
Polopadang?’

“Saya ingin menyeberang ke seberang lautan untuk mencari anak saya, Paerunan, yang dibawa oleh
ibunya ke langit.”

Buaya putih itu lalu menyuruh Polopadang naik ke punggungnya dan membawanya menyeberangi
lautan menuju ke kaki langit. Sebelumnya, mereka berdua mengikat janji bahwa keturunan Polopadang
tidak boleh menyiksa keturunan buaya, dan sebaliknya keturunan buaya tidak akan mengganggu
keturunan Polopadang. Karena janji inilah, buaya kemudian tidak pernah ditemukan di Toraja, tempat
keturunan Polopadang beranak pinak.

Ketika matahari hampir terbenam, Polopadang sampai di kaki langit. Ia meminta tolong kepada matahari
untuk membawanya ke langit setelah menceritakan niatnya untuk mencari Paerunan.
“Saya tidak bisa membawamu ke langit karena tubuhmu pasti akan meleleh,” tolak matahari dengan
sopan. “Tunggulah bulan yang sebentar lagi akan datang.”
Maka ketika malam datang, Polopadang menunggu bulan yang kemudian muncul menggantikan
matahari. Seperti yang ia sampaikan kepada matahari, Polopadang kemudian meminta tolong kepada
bulan untuk membawanya ke langit.

“Saya bisa membawamu ke langit, tapi apakah kamu tahan dengan bau busuk dari tubuh saya?” tanya
bulan kepada Polopadang. (mengacu kepada gerhana yang dalam bahasa Toraja disebut bosi bulan:
‘bulan busuk’).

“Tidak menjadi masalah asalkan kamu bisa membawa saya ke langit.” Polopadang menyanggupi.
Maka, berangkatlah Polopadang ke langit menumpangi bulan. Ketika bosi bulan tiba, sang bulan
menyuruh Polopadang untuk memukul bagian punggungnya. Sesuatu yang kelak, diikuti oleh keturunan
Polopadang ketika gerhana tiba dengan cara menumbuk lesung kosong menggunakan alu.
Sesampainya di langit, Polopadang heran melihat banyak sekali perempuan yang lalu lalang sambil
membawa lampa (bumbung; perian: tabung bambu untuk mengambil air). Ia lalu bertanya kepada salah
satu perempuan itu.

“Apa kamu tidak tahu kalau Indo’ Deatanna telah kembali dari bumi? Air ini akan dipakai untuk
memandikan Paerunan, anak lelakinya,” jawab perempuan itu heran.
Polopadang merasa lega. Pencariannya tak sia-sia karena ternyata ia sudah sampai di tempat anak
lelakinya berada. Ia lalu menceritakan maksud kedatangannya ke langit untuk mencari Paerunan. Berita
segera tersebar di langit. Tersiar kabar bahwa seorang lelaki yang mengaku sebagai ayah Paerunan
datang untuk mengambil kembali anaknya. Indo’ Deatanna yang ikut mendengat berita itu segera
menyembunyikan Paerunan. Ia membawa Paerunan masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya
rapat-rapat. Dari luar, rumah itu tampak tak berpintu. Hanya orang-orang di langit lah yang bisa melihat
pintu masuk ke rumah itu. Namun, para penghuni langit tidak mengetahui jika Polopadang adalah
manusia yang berasal dari bumi. Indo’ Deatanna juga menitipkan pesan kepada orang-orang di langit
untuk mencelakai Polopadang jika ia bermaksud mengambil Paerunan.

Ketika mengutarakan niatnya untuk mengambil Paerunan, para penghuni langit menyuruh Polopadang
untuk mengambil air menggunakan buria’ (keranjang dari bambu yang dianyam tidak rapat sehingga
berlubang-lubang).

Demi rasa rindu pada anak lelakinya, juga rasa bersalah pada istrinya, Polopadang menyanggupi
permintaan itu meskipun ia tahu ia telah dipermainkan. Ketika ia menitikkan air mata sambil
menampung air yang tak kunjung penuh dalam buria’, seekor masapi (mua: sejenis belut berukuran
lebih besar yang bertelinga dan hidup di air tawar) muncul di permukaan air.
“Kenapa kamu menangis, Polopadang?” tanya masapi itu.
“Saya ingin mengambil kembali anak saya, Paerunan, namun terlebih dahulu saya harus memenuhi
buria’ ini dengan air.”

Masapi itu segera menghibur hati Polopadang yang sedih. Ia menawarkan bantuan kepada Polopadang.
Masapi itu melepaskan lendir yang melapisi kulitnya untuk menutupi lubang-lubang buria’. Dengan
bantuan masapi itu, Polopadang akhirnya bisa memenuhi permintaan para penghuni langit untuk
mengisi penuh buria’ dengan air. Namun, Paerunan belum diserahkan kepada Polopadang.
Setelah berhasil mengisi air ke dalam buria’, para penghuni langit mulai meyakini kalau Polopadang
adalah seorang dewa. Mereka lalu mengajukan syarat baru. Polopadang diminta untuk menebang
sebuah pohon beringin besar dengan menggunakan pisau kecil. Polopadang menyanggupi permintaan
itu. Dengan tekad penuh dan semangat yang berkobar-kobar demi mendapatkan kembali Paerunan, ia
mulai menusukkan pisau kecil yang diberikan oleh penghuni langit ke pohon beringin besar itu. Namun,
tak sedikit pun beringin itu tergores, bahkan kulitnya sekalipun. Polopadang menghempaskan tubuhnya
lalu mulai menangis. Seekor tabuan (lebah) mendengar tangisan Polopadang lalu datang mendekat.
Ketika mendengar penuturan Polopadang tentang maksud kedatangannya ke langit, lebah itu kemudian
memanggil teman-temannya untuk membantu Polopadang. Perlahan-lahan, mereka menggerogoti
pangkal pohon beringin hingga akhirnya tumbang. Namun lagi-lagi, Polopadang belum dibolehkan untuk
mengambil Paerunan.

Syarat baru diajukan. Polopadang harus bisa memakan habis bite’ (keladi) yang terhampar di sebuah
lembah yang luas. Baru sebutir keladi tuntas ia habiskan, Polopadang mulai merasa sekujur tubuhnya
gatal. Ia menggaruk-garuk seluruh tubuhnya sambil menangis meraung-raung. Seekor babi hutan yang
sedang melintas di tempat itu mendengar tangisan Polopadang lalu bertanya, “kenapa kamu menangis
sambil menggaruk badan?”

Polopadang lantas menceritakan permintaan para penghuni langit untuk menghabiskan keladi sebanyak
satu lembah agar ia bisa mengdapatkan kembali Paerunan. Babi hutan itu memanggil kawan-kawannya
dan dalam sekejap menghabiskan semua keladi yang ada di lembah itu.Polopadang menenui para
penghuni langit dengan muka berseri-seri. Ia yakin ia akan segera bertemu dengan Paerunan.
Ketika sampai di halaman rumah di mana Paerunan disembunyikan, seorang tetua adat menyambut
Polopadang. Dengan santai ia berkata kepada Polopadang, “meskipun kamu telah menghabiskan keladi
sebanyak satu lembah, namun untuk membawa pulang Paerunan, kamu harus sanggup mengumpulkan
kembali bua ba’tan’ sebanyak 7 bakul ini.” Lelaki tua itu kemudian menghamburkan jawawut (sejenis
biji-bijian berukuran kecil yang sering dijadikan makanan burung) di halaman rumah. “Tak boleh ada
sebiji pun yang tertinggal!” lelaki tua itu menambahkan.

Polopadang terpana melihatnya. Ia sungguh tak menyangka kalau ujian yang diberikan kepadanya masih
belum berakhir. Belum sempat mengajukan protes, lelaki itu sudah berlalu meninggalkan Polopadang.
Tak punya pilihan lain, Polopadang segera mengumpulkan biji jawawut yang tersebar di halaman rumah.
Dengan susah payah, ia memunguti biji jawawut itu satu per satu dan mengumpulkannya ke dalam
bakul. Belum penuh sebakul, Polopadang mulai tampak pasrah. Halaman rumah yang dipenuhi dengan
bebatuan yang berselang-seling dengan rumput tebal dan tanah becek membuatnya sangat kesulitan
mengumpulkan biji-biji jawawut itu. Ia kemudian menangis terisak-isak. Seekor burung pipit yang
terbang melintas di tempat itu mendengar tangisannya lalu hinggap di pundak Polopadang. Setelah
mengetahui kesulitan yang dihadapi oleh Polopadang, burung pipit itu memanggil kawan-kawannya
untuk membantu Polopadang.

“Tetua adat di sini mewajibkan untuk memenuhi kembali 7 bakul ini,” pesan Polopadang kepada burung
pipit. Setelah sekawanan burung pipit itu selesai mengumpulkan biji-biji jawawut, Polopadang heran
karena jumlahnya kurang dari 7 bakul. Ia lalu bertanya kepada burung pipit, “Adakah kamu memakan
biji jawawut hingga jumlahnya kurang?”

Burung pipit itu mengatakan tidak dan bersumpah jika mereka memakan biji jawawut hingga jumlahnya
kurang maka perut mereka akan berpindah ke leher. Polopadang tak percaya. Tanpa sepengetahuan
burung pipit, ia mengetuk leher burung pipit itu dengan perlahan dan seketika keluarlah biji-biji jawawut
dari perut burung pipit. Kelak, keturunan burung pipit memiliki tembolok di bagian leher sebagai
kutukan atas sumpah yang keluar dari mulut mereka sendiri.

Setelah mengembalikan 7 bakul berisi jawawut kepada tetua adat tadi, Polopadang belum juga
dibolehkan menemui Paerunan. Sebuah tugas baru menanti. Polopadang diminta untuk mengalirkan air
ke halaman rumah sehingga penduduk di sekitar tempat itu tak perlu lagi jauh-jauh ke mata air di
puncak gunung untuk mengambil air. Dengan dibekali sebuah linggis, Polopadang mulai mencari-cari
mata air yang sekiranya berada di sekitar tempat itu. Namun, mata air itu tak kunjung ketemu. Seekor
kepiting menghampiri Polopadang dan bertanya mengapa Polopadang tampak muram dan membawa
linggis ke mana-mana. Polopadang lalu menceritakan kesulitan yang ia alami keapada kepiting itu yang
kemudian menawarkan bantuan. “Saya akan pergi ke puncak gunung untuk melubangi mata air yang di
sana hingga sampai ke tempat ini. Nanti, kalau ada bagian tanah yang bergerak, segera tancapkan linggis
itu.” Begitu pesan si kepiting. Maka, beberapa lama kemudian, ketika Polopadang melihat ada bagian
tanah yang bergerak, ia segera menancapkan linggis yang ada di tangannya ke dalam tanah. Air
menyembur dari dalam tanah. Tanpa ia sadari, linggis itu mengenai punggung si kepiting. Beruntung,
cangkang kepiting yang keras melindungi tubuhnya sehingga tidak sampai terbelah. Karena kejadiam itu,
keturunan kepiting memiliki semacam garis di bagian punggungnya.

Para penghuni langit mulai kehabisan akal untuk mencelakakan Polopadang. Semua ujian yang mereka
berikan, dapat diatasi Polopadang. Karena tak menemukan muslihat lain untuk memperdaya
Polopadang, mereka kemudian menyuruh Polopadang untuk mencari sendiri Paerunan di dalam rumah
yang sebelumnya sudah dikunci rapat-rapat oleh istrinya, Indo’ Deatanna.
Polopadang mengitari rumah itu untuk mencari pintu masuk. Karena tak memiliki daya lihat yang
sebanding dengan orang-orang yang ada di langit, Polopadang kesulitan menemukan pintu di rumah itu.
Di matanya, seluruh dinding rumah itu sama saja. Tak ada bagian bercelah yang menandakan adanya
pintu ataupun jendela. Polopadang mulai menangis lagi. Seekor tikus kemudian datang bertanya
kepadanya. “Apakah gerangan yang membuatmu menangis, Polopadang?”

“Saya ingin bertemu dengan anak saya, Paerunan, yang disembunyikan di dalam rumah. Namun, saya
tak melihat ada pintu masuk ke dalam rumah ini,” jawab Polopadang pasrah.
Tikus itu kemudian menawarkan bantuan kepada Polopadang untuk menemukan pintu masuk ke dalam
rumah. Ia mengendus seluruh dinding luar rumah hingga akhirnya menemukan sebuah celah yang
ternyata merupakan pintu masuk yang tak tampak oleh mata manusia bumi. Dengan petunjuk tikus itu,
Polopadang kemudian berhasil masuk ke dalam rumah.

Gelap gulita menyambutnya. Tak tampak sedikit pun cahaya dalam ruangan itu. Polopadang memanggilmanggil
Paerunan, namun tak ada jawaban. Setelah beberapa lama, sebuah suara yang sangat ia kenali
menyapa Polopadang. “Kalau kamu memang benar-benar menyesali perbuatanmu mengucapkan katakata
kasar di bumi, maka kamu harus bisa menemukan saya di dalam kegelapan.” Ternyata suara Indo’
Deatanna. Maka, berjalanlah Polopadang dalam ruangan itu sambil meraba-raba. Baru beberapa
langkah, tangannya menyentuh badan seseorang. Polopadang segera memeluknya dan bertanya,
“Apakah kamu adalah ibu dari Paerunan?”

“Kamu memilih perempuan yang keliru,” suara Indo’ Deatanna dari kejauhan. Polopadang segera
melepaskan pelukannya. Ia meraba-raba lagi dalam kegelapan dan perlahan menyadari kalau di dalam
ruangan itu ternyata ada banyak perempuan selain istrinya. “Kamu punya 2 kesempatan lagi untuk
menemukan saya. Kalau kamu keliru, maka kamu harus segera kembali ke bumi tanpa saya dan
Paerunan,” sambung Indo’ Deatanna. Tak seperti Polopadang yang kehilangan daya lihat dalam
kegelapan, Indo’ Deatanna, seperti juga penghuni langit lainnya, dengan mudah bisa melihat posisi
Polopadang.

Polopadang berjalan lagi mengitari ruangan itu. Ia memercayakan instingnya untuk menemukan Indo’
Deatanna. Di sebelah seorang perempuan yang ia duga adalah istrinya, Polopadang berhenti beberapa
lama. Ia bermaksud meyakinkan diri jika perempuan yang berdiri di sampingnya itu adalah Indo’
Deatanna. Ia menguji suara batinnya. Setelah yakin, ia menyentuh badan perempuan itu dengan lembut
sambil memohon, “Ampunilah kesalahanku. Saya berjanji tidak akan mengulangi lagi mengucapkan
kata-kata kasar. Kembalilah ke bumi bersamaku dan Paerunan.”

Tak ada jawaban. Polopadang menungu sambil meraba-raba tubuh perempuan itu. Setelah beberapa
lama, akhirnya ia sadar telah melewatkan satu kesempatan lagi. Sesuai syarat yang tadi diajukan Indo’
Deatanna, maka Polopadang hanya memiliki satu kesempatan lagi. Dalam situasi seperti itu, Polopadang
akhirnya pasrah dan menyerahkan nasibnya kepada takdir.

Mendadak, dari seberang ruangan muncul seekor kaluppepe’ (kunang-kunang). Sedari tadi, ia telah
mengetahui apa yang sedang terjadi. Kunang-kunang itu kemudian membisikkan sesuatu kepada
Polopadang. Ia terbang mengitari seluruh ruangan dan berhenti di atas kepala seorang perempuan. Dari
kejauhan Polopadang melihatnya sebagai cahaya yang berkelap-kelip. Cahaya itu tidak bergerak ke
mana-mana yang merupakan pertanda yang tadi dibisikkan oleh kunang-kunang. Polopadang segera
berlari ke tempat itu dan memeluk tubuh Indo’ Deatanna yang telah ditandai oleh kunang-kunang
dengan cahaya kelap-kelip.

Polopadang kemudian berhasil bertemu kembali dengan istrinya dan juga anak lelakinya. Mereka
kembali ke bumi dan hidup dalam penuh kedamaian. Polopadang tak lagi pernah mengucapkan katakata
kasar sepanjang hidupnya karena tak ingin ditinggalkan lagi oleh anak dan istrinya.

Dirangkum dari berbagai sumber (lisan maupun tulisan).

Bandung, 11 Maret 2011

RAMPA MAEGA (PENULIS NOVEL LANDORUNDUN)
UNTUK rumahgambar.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar