The Purpose Of God’s Goodness
God be merciful to us and bless us, and cause His face to shine upon us. —Psalm 67:1
Bible in a year:
2 Samuel 3-5; Luke 14:25-35
When I was growing up, we often sang a song in Sunday school that went like this: “God is good to me! God is good to me! He holds my hand and helps me stand! God is good to me!”
I need to say right away that I believe God is good and He takes delight in doing good things for people. He does indeed hold our hand in times of trouble and helps us stand against the onslaught of life’s difficulties. But I wonder if you’ve ever asked yourself, Why is He good? It certainly is not because we deserve it or because
He feels the need to buy our love and allegiance with His benefits.
The psalmist prays for God to bless him so that “[the Lord’s] way may be known on earth, Your salvation among all nations” (Ps. 67:2). God’s daily blessings are proof positive that He is indeed a good God who cares for His own. But how will our world know this about God if we never praise Him for His goodness to us? (v.3).
So, the next time God blesses you, be sure to look for ways to appropriately give Him the credit. Consuming His blessings without communicating His goodness shortchanges the very purpose of His gifts of grace in our lives.
As endless as God’s blessings are,
So should my praises be
For all His daily goodnesses
That flow unceasingly! —Adams
God is good—make sure the people in your world know what He has done in your life.
April 18, 2011 — by Joe Stowell
Baca: Mazmur 67
Tujuan Dari Kebaikan Allah
Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya. —Mazmur 67:2
Bacaan Untuk Setahun:
2 Samuel 3–5 * Lukas 14:25-35
Ketika saya beranjak dewasa, kami sering menyanyikan sebuah lagu di Sekolah Minggu yang liriknya: “Allah baik padaku! Allah baik padaku! Dia pegang tanganku dan tolongku berdiri teguh! Allah baik padaku!”
Saya merasa perlu untuk segera menyatakan bahwa saya percaya Allah itu baik dan Dia senang mengerjakan kebaikan kepada semua orang. Allah memang benar-benar memegang tangan kita di masa-masa sulit dan menolong kita bertahan menghadapi serangan gencar dari penderitaan dalam hidup. Namun, saya ingin tahu apakah Anda pernah merenungkan, Mengapa Dia baik? Yang pasti bukan karena kita pantas menerima kebaikan-Nya atau karena Dia merasa perlu membeli kasih dan kesetiaan kita dengan pemberian-Nya.
Penulis Mazmur berdoa kepada Allah supaya memberkatinya sehingga “jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa” (Mzm. 67:3). Berkat-berkat-Nya setiap hari adalah bukti nyata bahwa Allah itu sungguh adalah Allah yang baik, yang memperhatikan setiap pribadi milik-Nya. Namun, bagaimana caranya agar dunia kita mengetahui tentang Allah seperti ini, jika kita tidak pernah bersyukur kepada-Nya atas kebaikan-Nya bagi kita? (ay.4).
Jadi, ketika nanti Allah memberkati Anda, pastikan bahwa Anda menempuh cara-cara yang pantas untuk bersyukur kepada-Nya. Menerima berkat-Nya saja tanpa menceritakan kebaikan-Nya sangat tidak sepadan dengan tujuan utama mengapa Dia memberikan anugerah-Nya dalam hidup kita. —JMS
Sebagaimana berkat Allah yang tak bertepi,
Sedemikian pula seharusnya aku memuji
‘Tuk semua kebaikan-Nya setiap hari
Yang mengalir tiada henti! —Adams
Allah itu baik—pastikan orang-orang di sekitar Anda tahu apa yang telah dilakukan-Nya dalam hidup Anda.
Santapan Rohani, Senin, April 18 2011
bulir-bulir pemikiran atas Firman Allah yang hidup dan aplikasinya dalam hidup berjemaat dalam ruang dan waktu agar siapapun diperkaya dan bertumbuh terus dalam kasih Kristus
Sponsors
Theme Support
Tampilkan postingan dengan label Our Daily Bread. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Our Daily Bread. Tampilkan semua postingan
Selasa, 19 April 2011
Read: Psalm 67
Label:
Our Daily Bread,
Santapan Rohani
Minggu, 17 April 2011
Read: Psalm 32
Of Pain And Gain
Many sorrows shall be to the wicked; but he who trusts in the Lord, mercy shall surround him. —Psalm 32:10
Bible in a year:
1 Samuel 30-31; Luke 13:23-35
During summer training camp, the coaches on one football team wore T-shirts intended to urge their players to exert maximum effort. The shirts bore the motto, “Each day you must choose: The pain of discipline or the pain of regret.”
Discipline is tough—and something we may try to avoid. But in sports and in life, short-term pain is often the only path to long-term gain. In the heat of battle it is too late to prepare. Either you are ready for the challenges of life or you will be haunted by the “what ifs,” “if onlys,” and “I should’ves” that accompany the failure to be prepared. That’s the pain of regret.
One source defines regret as “an intelligent and emotional dislike for personal past acts and behaviors.” It’s painful to look back at our choices through the lens of regret and feel the weight of our failures. This was the case for the psalmist. After a personal episode of sin and failure, he wrote, “Many sorrows shall be to the wicked; but he who trusts in the Lord, mercy shall surround him” (Ps. 32:10). In the clarity of hindsight, he saw the wisdom of a life that strives to honor the Lord—a life that does not need to be marked by regret.
May our choices today not result in regret, but rather be wise and God-honoring.
In You, O Lord, we take delight,
Our every need You can supply;
We long to do what’s true and right,
So, Lord, on You we will rely. —D. De Haan
Present choices determine future rewards.
Our Daily Bread, April 16, 2011 — by Bill Crowder
Baca: Mazmur 32
Bersakit-sakit Dahulu
Banyak kesakitan diderita orang fasik; tetapi orang percaya kepada TUHAN, dikelilingi-Nya dengan kasih setia. —Mazmur 32:10
Bacaan Untuk Setahun:
1 Samuel 30–31 * Lukas 13:23-35
Selama mengikuti pelatihan musim panas, para pelatih dari suatu tim sepakbola sama-sama memakai kaos yang dirancang untuk mendorong pemain mereka supaya berlatih secara maksimal. Pada kaos itu tertulis moto: “Tiap hari pilihlah: sakitnya disiplin atau pedihnya penyesalan”. Disiplin adalah hal yang sulit—dan kita mungkin berusaha menghindarinya. Namun, dalam dunia olahraga maupun kehidupan, bersakit-sakit dahulu untuk jangka waktu singkat sering menjadi satu-satunya jalan supaya dapat bersenang-senang untuk jangka waktu yang lama.
Dalam suatu pertempuran yang sengit, terlambat sudah kalau masih bersiap-siap. Pilihannya: Anda harus siap sedia menghadapi segala tantangan hidup atau Anda akan terus dibayangi pemikiran “bagaimana jika”, “seandainya saja”, dan “seharusnya aku” yang muncul ketika Anda gagal mempersiapkan diri. Itulah pedihnya penyesalan.
Sebuah tulisan mendefinisikan penyesalan sebagai “ketidaksukaan emosional dan intelektual terhadap tindakan dan perilaku diri yang terjadi di masa lalu.” Sungguh menyakitkan ketika melihat kembali keputusan kita dengan kacamata penyesalan dan merasakan beban dari kegagalan kita. Itulah yang dialami sang pemazmur. Setelah melalui kejatuhan dosa dan kegagalan pribadi, ia menulis, “Banyak kesakitan diderita orang fasik; tetapi orang percaya kepada TUHAN, dikelilingi-Nya dengan kasih setia” (Mzm. 32:10). Ketika melihat dengan jelas apa yang ada di belakang, ia melihat kebajikan dari suatu hidup yang berusaha memuliakan Tuhan—hidup yang tak perlu diwarnai penyesalan.
Kiranya pilihan kita hari ini tidak berakhir dengan penyesalan, melainkan suatu pilihan yang bijaksana dan memuliakan Allah. —WEC
Padamu, oh Tuhan, kami bersukacita,
Setiap keperluan kami, Engkau sediakan;
Kami rindu melakukan apa yang baik dan benar,
Tuhan, pada-Mu kami akan bersandar. —D. De Haan
Pilihan saat ini menentukan hasil di masa mendatang.
Santapan Rohani, Sabtu, April 16 2011
Many sorrows shall be to the wicked; but he who trusts in the Lord, mercy shall surround him. —Psalm 32:10
Bible in a year:
1 Samuel 30-31; Luke 13:23-35
During summer training camp, the coaches on one football team wore T-shirts intended to urge their players to exert maximum effort. The shirts bore the motto, “Each day you must choose: The pain of discipline or the pain of regret.”
Discipline is tough—and something we may try to avoid. But in sports and in life, short-term pain is often the only path to long-term gain. In the heat of battle it is too late to prepare. Either you are ready for the challenges of life or you will be haunted by the “what ifs,” “if onlys,” and “I should’ves” that accompany the failure to be prepared. That’s the pain of regret.
One source defines regret as “an intelligent and emotional dislike for personal past acts and behaviors.” It’s painful to look back at our choices through the lens of regret and feel the weight of our failures. This was the case for the psalmist. After a personal episode of sin and failure, he wrote, “Many sorrows shall be to the wicked; but he who trusts in the Lord, mercy shall surround him” (Ps. 32:10). In the clarity of hindsight, he saw the wisdom of a life that strives to honor the Lord—a life that does not need to be marked by regret.
May our choices today not result in regret, but rather be wise and God-honoring.
In You, O Lord, we take delight,
Our every need You can supply;
We long to do what’s true and right,
So, Lord, on You we will rely. —D. De Haan
Present choices determine future rewards.
Our Daily Bread, April 16, 2011 — by Bill Crowder
Baca: Mazmur 32
Bersakit-sakit Dahulu
Banyak kesakitan diderita orang fasik; tetapi orang percaya kepada TUHAN, dikelilingi-Nya dengan kasih setia. —Mazmur 32:10
Bacaan Untuk Setahun:
1 Samuel 30–31 * Lukas 13:23-35
Selama mengikuti pelatihan musim panas, para pelatih dari suatu tim sepakbola sama-sama memakai kaos yang dirancang untuk mendorong pemain mereka supaya berlatih secara maksimal. Pada kaos itu tertulis moto: “Tiap hari pilihlah: sakitnya disiplin atau pedihnya penyesalan”. Disiplin adalah hal yang sulit—dan kita mungkin berusaha menghindarinya. Namun, dalam dunia olahraga maupun kehidupan, bersakit-sakit dahulu untuk jangka waktu singkat sering menjadi satu-satunya jalan supaya dapat bersenang-senang untuk jangka waktu yang lama.
Dalam suatu pertempuran yang sengit, terlambat sudah kalau masih bersiap-siap. Pilihannya: Anda harus siap sedia menghadapi segala tantangan hidup atau Anda akan terus dibayangi pemikiran “bagaimana jika”, “seandainya saja”, dan “seharusnya aku” yang muncul ketika Anda gagal mempersiapkan diri. Itulah pedihnya penyesalan.
Sebuah tulisan mendefinisikan penyesalan sebagai “ketidaksukaan emosional dan intelektual terhadap tindakan dan perilaku diri yang terjadi di masa lalu.” Sungguh menyakitkan ketika melihat kembali keputusan kita dengan kacamata penyesalan dan merasakan beban dari kegagalan kita. Itulah yang dialami sang pemazmur. Setelah melalui kejatuhan dosa dan kegagalan pribadi, ia menulis, “Banyak kesakitan diderita orang fasik; tetapi orang percaya kepada TUHAN, dikelilingi-Nya dengan kasih setia” (Mzm. 32:10). Ketika melihat dengan jelas apa yang ada di belakang, ia melihat kebajikan dari suatu hidup yang berusaha memuliakan Tuhan—hidup yang tak perlu diwarnai penyesalan.
Kiranya pilihan kita hari ini tidak berakhir dengan penyesalan, melainkan suatu pilihan yang bijaksana dan memuliakan Allah. —WEC
Padamu, oh Tuhan, kami bersukacita,
Setiap keperluan kami, Engkau sediakan;
Kami rindu melakukan apa yang baik dan benar,
Tuhan, pada-Mu kami akan bersandar. —D. De Haan
Pilihan saat ini menentukan hasil di masa mendatang.
Santapan Rohani, Sabtu, April 16 2011
Label:
Our Daily Bread,
Santapan Rohani
Read: 2 Timothy 2:1-7
An Attached Fuel Hose
No one engaged in warfare entangles himself with the affairs of this life. —2 Timothy 2:4
Bible in a year:
Ruth 1-4; Luke 8:1-25
Felipe Massa of Brazil should have won the Formula One Grand Prix in Singapore in September 2008. But as he drove off from a refueling stop while in the lead, the fuel hose was still attached. By the time his team removed the hose, he had lost so much time that he finished 13th.
The apostle Paul warned Timothy of another kind of attachment that would cause him defeat—“the affairs of this life” (2 Tim. 2:4). He urged Timothy not to let anything slow him down or distract him from the cause of his Lord and Master.
There are many attractive things in our world that are so easy to get entangled with—hobbies, sports, TV, computer games. These may start off as “refueling” activities, but later they can take up so much of our time and thought that they interfere with the purpose for which God created us: to share the good news of Christ, serve Him with our gifts, and bring glory to Him.
Paul told Timothy why he ought not be entangled with this world’s affairs: So that he could “please Him” (v.4). If your desire is to please the Lord Jesus, you will want to stay untangled from the world. As John reminds us, “The world is passing away, and the lust of it; but he who does the will of God abides forever” (1 John 2:17).
For Further Study
If you have questions about your life’s purpose in this
world, read online Why In The World Am I Here?
at www.discoveryseries.org/q0502
Although we live in this world,
we must declare our allegiance to heaven.
Our Daily Bread, April 4, 2011
Baca: 2 Timotius 2:1-7
Selang Yang Terpasang
Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya. —2 Timotius 2:4
Bacaan Untuk Setahun:
Rut 1–4 * Lukas 8:1-25
Felipe Massa dari Brazil seharusnya dapat memenangi Formula One Grand Prix di Singapura pada bulan September 2008. Namun, saat ia hendak melaju dari tempat pengisian ulang bahan bakar, selang pengisi bahan bakar masih lekat terpasang di mobilnya. Meskipun pada waktu itu ia berada di posisi terdepan, saat timnya berhasil melepaskan selang itu, ia telah kehilangan banyak waktu yang membuatnya harus tiba di garis finis pada posisi ke-13.
Rasul Paulus mengingatkan Timotius tentang suatu hal lain yang dapat melekat dan menjatuhkan, yaitu “soal-soal penghidupannya” (2 Tim. 2:4). Ia menasihati Timotius agar tidak membiarkan apa pun untuk melemahkan atau mengalihkan fokus pelayanannya kepada Tuhan Allah.
Ada banyak hal menarik di dunia kita yang begitu mudahnya membuat kita terikat—hobi, olahraga, acara TV, permainan komputer. Semua itu mungkin berawal sebagai aktivitas untuk mengisi waktu luang kita. Namun, lambat laun hal-hal itu dapat menghabiskan begitu banyak waktu dan pikiran kita hingga menghalangi maksud Allah menciptakan kita, yaitu untuk membagikan kabar baik tentang Kristus, melayani-Nya dengan karunia kita, dan memuliakan nama-Nya.
Paulus mengatakan kepada Timotius mengapa ia tidak boleh terikat pada soal-soal duniawi ini: supaya Timotius dapat “berkenan kepada komandannya” (ay.4). Jika Anda rindu menyenangkan Tuhan Yesus, Anda pasti ingin melepaskan ikatan Anda dengan dunia ini. Yohanes pun mengingatkan kita, “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” (1 Yoh. 2:17). —CPH
Hidup dalam dunia ini, tetapi tak serupa dengan dunia,
Tolong aku, Tuhan, ‘tuk menjalani hidup hari ini,
Terbebas dari segala yang mungkin dapat mengikat
Yang memperdaya dan mengesankan. —Graves
Meskipun kita hidup di dunia, kita harus menyatakan kesetiaan kita kepada surga.
Santapan Rohani, Senin, 4 April 2011
No one engaged in warfare entangles himself with the affairs of this life. —2 Timothy 2:4
Bible in a year:
Ruth 1-4; Luke 8:1-25
Felipe Massa of Brazil should have won the Formula One Grand Prix in Singapore in September 2008. But as he drove off from a refueling stop while in the lead, the fuel hose was still attached. By the time his team removed the hose, he had lost so much time that he finished 13th.
The apostle Paul warned Timothy of another kind of attachment that would cause him defeat—“the affairs of this life” (2 Tim. 2:4). He urged Timothy not to let anything slow him down or distract him from the cause of his Lord and Master.
There are many attractive things in our world that are so easy to get entangled with—hobbies, sports, TV, computer games. These may start off as “refueling” activities, but later they can take up so much of our time and thought that they interfere with the purpose for which God created us: to share the good news of Christ, serve Him with our gifts, and bring glory to Him.
Paul told Timothy why he ought not be entangled with this world’s affairs: So that he could “please Him” (v.4). If your desire is to please the Lord Jesus, you will want to stay untangled from the world. As John reminds us, “The world is passing away, and the lust of it; but he who does the will of God abides forever” (1 John 2:17).
For Further Study
If you have questions about your life’s purpose in this
world, read online Why In The World Am I Here?
at www.discoveryseries.org/q0502
Although we live in this world,
we must declare our allegiance to heaven.
Our Daily Bread, April 4, 2011
Baca: 2 Timotius 2:1-7
Selang Yang Terpasang
Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya. —2 Timotius 2:4
Bacaan Untuk Setahun:
Rut 1–4 * Lukas 8:1-25
Felipe Massa dari Brazil seharusnya dapat memenangi Formula One Grand Prix di Singapura pada bulan September 2008. Namun, saat ia hendak melaju dari tempat pengisian ulang bahan bakar, selang pengisi bahan bakar masih lekat terpasang di mobilnya. Meskipun pada waktu itu ia berada di posisi terdepan, saat timnya berhasil melepaskan selang itu, ia telah kehilangan banyak waktu yang membuatnya harus tiba di garis finis pada posisi ke-13.
Rasul Paulus mengingatkan Timotius tentang suatu hal lain yang dapat melekat dan menjatuhkan, yaitu “soal-soal penghidupannya” (2 Tim. 2:4). Ia menasihati Timotius agar tidak membiarkan apa pun untuk melemahkan atau mengalihkan fokus pelayanannya kepada Tuhan Allah.
Ada banyak hal menarik di dunia kita yang begitu mudahnya membuat kita terikat—hobi, olahraga, acara TV, permainan komputer. Semua itu mungkin berawal sebagai aktivitas untuk mengisi waktu luang kita. Namun, lambat laun hal-hal itu dapat menghabiskan begitu banyak waktu dan pikiran kita hingga menghalangi maksud Allah menciptakan kita, yaitu untuk membagikan kabar baik tentang Kristus, melayani-Nya dengan karunia kita, dan memuliakan nama-Nya.
Paulus mengatakan kepada Timotius mengapa ia tidak boleh terikat pada soal-soal duniawi ini: supaya Timotius dapat “berkenan kepada komandannya” (ay.4). Jika Anda rindu menyenangkan Tuhan Yesus, Anda pasti ingin melepaskan ikatan Anda dengan dunia ini. Yohanes pun mengingatkan kita, “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” (1 Yoh. 2:17). —CPH
Hidup dalam dunia ini, tetapi tak serupa dengan dunia,
Tolong aku, Tuhan, ‘tuk menjalani hidup hari ini,
Terbebas dari segala yang mungkin dapat mengikat
Yang memperdaya dan mengesankan. —Graves
Meskipun kita hidup di dunia, kita harus menyatakan kesetiaan kita kepada surga.
Santapan Rohani, Senin, 4 April 2011
Label:
Our Daily Bread,
Santapan Rohani
Read 1 Corinthians 11:27-29
Time For A Checkup
Let a man examine himself, and so let him eat of the bread and drink of the cup. —1 Corinthians 11:28
Bible in a year:
Judges 19-21; Luke 7:31-50
Every year I have a physical—that periodic visit to the doctor’s office where I’m poked and prodded, screened and studied. It is something that can be easy to dread, and even to fear. We aren’t sure what the tests will show or what the doctors will say. Still, we know that we need this evaluation to understand our physical well-being and what is needed as we move forward.
The same is true spiritually in the life of the Christ-follower. We need to pause from time to time and reflect on the condition of our hearts and lives.
One place for an important self-study is at the Lord’s Table. Paul wrote to the Corinthians, some of whom were eating in an unworthy manner: “Let a man examine himself, and so let him eat of the bread and drink of the cup” (1 Cor. 11:28). In the remembrance of Christ’s death for us, there can be a sobering clarity of thought and understanding, for as we consider the price Jesus paid for us, it is the best time to consider the condition of our heart and our relationships. Then, with honest understanding of our spiritual well-being, we can turn to Him for the grace we need to move forward in His name.
Is it time for your checkup?
Search me, O God, my heart discern;
Try me, my inmost thoughts to learn.
Help me to keep from sin, I pray,
Guarding my mind throughout this day. —Anon.
Self-examination is one test from which no Christian is excused.
Our Daily Bread, April 3, 2011 — by Bill Crowder
Baca: 1 Korintus 11:27-29
Waktunya Memeriksa Diri
Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. —1 Korintus 11:28
Bacaan Untuk Setahun:
Hakim-Hakim 19–21 * Lukas 7:31-50
Setiap tahun, saya melakukan pemeriksaan jasmani, yaitu kunjungan rutin ke tempat praktek dokter di mana tubuh saya akan diraba dan ditusuk, diteliti dan diamati. Ini adalah sesuatu yang mudah membuat kita ngeri, bahkan takut. Kita tidak tahu bagaimana hasil tesnya atau apa yang akan dikatakan oleh dokter. Meskipun demikian, kita tahu bahwa kita memerlukan pemeriksaan rutin ini untuk mengetahui kondisi kesehatan jasmani kita dan apa yang diperlukan dalam menjalani hari depan kita.
Hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan rohani seorang pengikut Kristus. Dari waktu ke waktu, kita perlu berdiam sejenak untuk memeriksa kondisi hati dan hidup kita.
Suatu momen untuk melakukan pemeriksaan rohani yang penting ini adalah pada saat kita menghadap meja Perjamuan Kudus. Paulus menuliskan kepada jemaat di Korintus, dimana beberapa orang di antara mereka mengikuti perjamuan dengan cara yang tidak layak: “Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu” (1 Kor. 11:28). Dengan mengingat kematian Kristus bagi kita, kita dapat memiliki pemikiran dan pemahaman yang peka dan murni, karena ketika kita merenungkan betapa mahalnya harga yang dibayar Yesus untuk menebus kita, itulah waktu yang tepat untuk memperhatikan kondisi hati dan hubungan kita dengan sesama. Kemudian, dengan pemahaman yang jujur akan kondisi rohani kita, kita dapat datang kepada-Nya untuk memperoleh anugerah yang kita perlukan guna menjalani hidup mendatang demi kemuliaan-Nya.
Apakah sekarang waktunya bagi Anda untuk memeriksa diri? —WEC
Oh, Allahku, jenguklah diriku,
Ujilah hati dan pikiranku,
Aku telah berdosa dan cemar,
Sucikan dan jadikan ‘ku benar. —NN.
(Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 13)
Memeriksa diri sendiri adalah suatu pengujian yang harus dilakukan oleh semua orang Kristen.
Santapan Rohani, Minggu, 3 April 2011
Let a man examine himself, and so let him eat of the bread and drink of the cup. —1 Corinthians 11:28
Bible in a year:
Judges 19-21; Luke 7:31-50
Every year I have a physical—that periodic visit to the doctor’s office where I’m poked and prodded, screened and studied. It is something that can be easy to dread, and even to fear. We aren’t sure what the tests will show or what the doctors will say. Still, we know that we need this evaluation to understand our physical well-being and what is needed as we move forward.
The same is true spiritually in the life of the Christ-follower. We need to pause from time to time and reflect on the condition of our hearts and lives.
One place for an important self-study is at the Lord’s Table. Paul wrote to the Corinthians, some of whom were eating in an unworthy manner: “Let a man examine himself, and so let him eat of the bread and drink of the cup” (1 Cor. 11:28). In the remembrance of Christ’s death for us, there can be a sobering clarity of thought and understanding, for as we consider the price Jesus paid for us, it is the best time to consider the condition of our heart and our relationships. Then, with honest understanding of our spiritual well-being, we can turn to Him for the grace we need to move forward in His name.
Is it time for your checkup?
Search me, O God, my heart discern;
Try me, my inmost thoughts to learn.
Help me to keep from sin, I pray,
Guarding my mind throughout this day. —Anon.
Self-examination is one test from which no Christian is excused.
Our Daily Bread, April 3, 2011 — by Bill Crowder
Baca: 1 Korintus 11:27-29
Waktunya Memeriksa Diri
Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. —1 Korintus 11:28
Bacaan Untuk Setahun:
Hakim-Hakim 19–21 * Lukas 7:31-50
Setiap tahun, saya melakukan pemeriksaan jasmani, yaitu kunjungan rutin ke tempat praktek dokter di mana tubuh saya akan diraba dan ditusuk, diteliti dan diamati. Ini adalah sesuatu yang mudah membuat kita ngeri, bahkan takut. Kita tidak tahu bagaimana hasil tesnya atau apa yang akan dikatakan oleh dokter. Meskipun demikian, kita tahu bahwa kita memerlukan pemeriksaan rutin ini untuk mengetahui kondisi kesehatan jasmani kita dan apa yang diperlukan dalam menjalani hari depan kita.
Hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan rohani seorang pengikut Kristus. Dari waktu ke waktu, kita perlu berdiam sejenak untuk memeriksa kondisi hati dan hidup kita.
Suatu momen untuk melakukan pemeriksaan rohani yang penting ini adalah pada saat kita menghadap meja Perjamuan Kudus. Paulus menuliskan kepada jemaat di Korintus, dimana beberapa orang di antara mereka mengikuti perjamuan dengan cara yang tidak layak: “Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu” (1 Kor. 11:28). Dengan mengingat kematian Kristus bagi kita, kita dapat memiliki pemikiran dan pemahaman yang peka dan murni, karena ketika kita merenungkan betapa mahalnya harga yang dibayar Yesus untuk menebus kita, itulah waktu yang tepat untuk memperhatikan kondisi hati dan hubungan kita dengan sesama. Kemudian, dengan pemahaman yang jujur akan kondisi rohani kita, kita dapat datang kepada-Nya untuk memperoleh anugerah yang kita perlukan guna menjalani hidup mendatang demi kemuliaan-Nya.
Apakah sekarang waktunya bagi Anda untuk memeriksa diri? —WEC
Oh, Allahku, jenguklah diriku,
Ujilah hati dan pikiranku,
Aku telah berdosa dan cemar,
Sucikan dan jadikan ‘ku benar. —NN.
(Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 13)
Memeriksa diri sendiri adalah suatu pengujian yang harus dilakukan oleh semua orang Kristen.
Santapan Rohani, Minggu, 3 April 2011
Label:
Our Daily Bread,
Santapan Rohani
Sabtu, 16 April 2011
Read Acts 11: 19-26
Known For Compassion
During Major Gen. Mark Graham’s 2 years as commander of Fort Carson, Colorado, he became known and loved for the way he treated others. One US Army colleague said: “I have never come across another general officer who was so compassionate and so concerned about the well-being of soldiers and their families.” After losing one son to suicide and another who was killed in action, Mark and his wife, Carol, dedicated themselves to helping soldiers and their families cope with service-related stress, depression, and loss.
In the book of Acts, a follower of Christ was well known for his care and concern toward others. His name was Joseph, but in the early church, the apostles called him Barnabas—“son of encouragement.” It was Barnabas who vouched for the newly converted Saul when others doubted the sincerity of his faith (Acts 9:26-27). Later, Barnabas brought Saul from Tarsus to teach the believers in Antioch (11:25-26). And it was Barnabas who wanted to give John Mark a second chance after his failure on a previous missionary journey (15:36-38).
Compassion is an inner feeling resulting in outward action. It should be our daily uniform of service (Col. 3:12). By God’s grace, may we be known for it.
Lord, help us be compassionate
To people in their grief;
Then tell them of the love of Christ,
Who’ll bring their souls relief. —Sper
True compassion is love in action.
Our Daily Bread, April 2, 2011
Baca Kisah Para Rasul 11:19-26
Dikenal Karena Berbelas Kasih
Karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan. —Kisah Para Rasul 11:24
Bacaan Untuk Setahun:
Hakim-Hakim 16–18 * Lukas 7:1-30
Selama menjabat dua tahun sebagai komandan dari Fort Carson, Colorado, Amerika Serikat, Mayjen Mark Graham dikenal dan disukai karena sikapnya dalam memperlakukan orang lain. Salah satu rekannya di Angkatan Darat AS berkata, “Saya belum pernah bertemu jenderal lain yang sangat penuh belas kasihan dan begitu mempedulikan kesejahteraan para prajurit serta keluarganya.” Setelah kehilangan seorang putranya yang bunuh diri dan seorang putra lainnya terbunuh dalam tugas, Mark dan istrinya, Carol, mengabdikan diri mereka untuk menolong dan melayani para prajurit dan keluarga mereka yang bergumul menghadapi pekerjaan, depresi, dan kematian yang terjadi semasa dalam dinas ketentaraan.
Dalam kitab Kisah Para Rasul, ada seorang pengikut Kristus yang dikenal karena kepedulian dan perhatiannya bagi sesama. Ia bernama Yusuf, tetapi di antara jemaat mula-mula, para murid memanggilnya Barnabas yang berarti “anak penghiburan”. Barnabaslah yang menjamin Saulus yang baru saja bertobat, ketika jemaat lainnya meragukan ketulusan iman Saulus (Kis. 9:26-27). Kemudian, Barnabas membawa Saulus dari Tarsus untuk mengajar jemaat di Antiokhia (11:25-26). Dan Barnabaslah yang ingin memberikan kesempatan kedua bagi Yohanes Markus setelah kegagalannya dalam perjalanan misi sebelumnya (15:36-38).
Belas kasihan adalah perasaan dalam hati yang diwujudnyatakan melalui tindakan. Belas kasihan seharusnya kita kenakan dalam pelayanan kita setiap hari (Kol. 3:12). Dengan anugerah Allah, kiranya kita dikenal karena sikap kita yang berbelas kasih. —DCM
Tuhan, tolong kami untuk berbelaskasihan
Kepada mereka yang tengah berduka;
Dan menceritakan tentang kasih Kristus kepada mereka,
Kasih yang akan melegakan jiwa mereka. —Sper
Belas kasihan yang sejati adalah kasih yang diwujudnyatakan.
Santapan Rohani, Sabtu, 2 April 2011
During Major Gen. Mark Graham’s 2 years as commander of Fort Carson, Colorado, he became known and loved for the way he treated others. One US Army colleague said: “I have never come across another general officer who was so compassionate and so concerned about the well-being of soldiers and their families.” After losing one son to suicide and another who was killed in action, Mark and his wife, Carol, dedicated themselves to helping soldiers and their families cope with service-related stress, depression, and loss.
In the book of Acts, a follower of Christ was well known for his care and concern toward others. His name was Joseph, but in the early church, the apostles called him Barnabas—“son of encouragement.” It was Barnabas who vouched for the newly converted Saul when others doubted the sincerity of his faith (Acts 9:26-27). Later, Barnabas brought Saul from Tarsus to teach the believers in Antioch (11:25-26). And it was Barnabas who wanted to give John Mark a second chance after his failure on a previous missionary journey (15:36-38).
Compassion is an inner feeling resulting in outward action. It should be our daily uniform of service (Col. 3:12). By God’s grace, may we be known for it.
Lord, help us be compassionate
To people in their grief;
Then tell them of the love of Christ,
Who’ll bring their souls relief. —Sper
True compassion is love in action.
Our Daily Bread, April 2, 2011
Baca Kisah Para Rasul 11:19-26
Dikenal Karena Berbelas Kasih
Karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan. —Kisah Para Rasul 11:24
Bacaan Untuk Setahun:
Hakim-Hakim 16–18 * Lukas 7:1-30
Selama menjabat dua tahun sebagai komandan dari Fort Carson, Colorado, Amerika Serikat, Mayjen Mark Graham dikenal dan disukai karena sikapnya dalam memperlakukan orang lain. Salah satu rekannya di Angkatan Darat AS berkata, “Saya belum pernah bertemu jenderal lain yang sangat penuh belas kasihan dan begitu mempedulikan kesejahteraan para prajurit serta keluarganya.” Setelah kehilangan seorang putranya yang bunuh diri dan seorang putra lainnya terbunuh dalam tugas, Mark dan istrinya, Carol, mengabdikan diri mereka untuk menolong dan melayani para prajurit dan keluarga mereka yang bergumul menghadapi pekerjaan, depresi, dan kematian yang terjadi semasa dalam dinas ketentaraan.
Dalam kitab Kisah Para Rasul, ada seorang pengikut Kristus yang dikenal karena kepedulian dan perhatiannya bagi sesama. Ia bernama Yusuf, tetapi di antara jemaat mula-mula, para murid memanggilnya Barnabas yang berarti “anak penghiburan”. Barnabaslah yang menjamin Saulus yang baru saja bertobat, ketika jemaat lainnya meragukan ketulusan iman Saulus (Kis. 9:26-27). Kemudian, Barnabas membawa Saulus dari Tarsus untuk mengajar jemaat di Antiokhia (11:25-26). Dan Barnabaslah yang ingin memberikan kesempatan kedua bagi Yohanes Markus setelah kegagalannya dalam perjalanan misi sebelumnya (15:36-38).
Belas kasihan adalah perasaan dalam hati yang diwujudnyatakan melalui tindakan. Belas kasihan seharusnya kita kenakan dalam pelayanan kita setiap hari (Kol. 3:12). Dengan anugerah Allah, kiranya kita dikenal karena sikap kita yang berbelas kasih. —DCM
Tuhan, tolong kami untuk berbelaskasihan
Kepada mereka yang tengah berduka;
Dan menceritakan tentang kasih Kristus kepada mereka,
Kasih yang akan melegakan jiwa mereka. —Sper
Belas kasihan yang sejati adalah kasih yang diwujudnyatakan.
Santapan Rohani, Sabtu, 2 April 2011
Label:
Our Daily Bread,
Santapan Rohani
Read Hebrews 5:12-6:2
Feeding Ourselves
The eaglets were hungry, and Mom and Dad seemed to be ignoring them. The oldest of the three decided to solve his hunger problem by gnawing on a twig. Apparently it wasn’t too tasty, because he soon abandoned it.
What intrigued me about this little drama, which was being broadcast by webcam from Norfolk Botanical Garden, was that a big fish lay just behind the eaglets. But they had not yet learned to feed themselves. They still relied on their parents to tear their food in tiny pieces and feed it to them. Within a few weeks, however, the parents will teach the eaglets how to feed themselves—one of their first survival lessons. If the eaglets don’t learn this skill, they will never be able to survive on their own.
The author of Hebrews spoke of a similar problem in the spiritual realm. Certain people in the church were not growing in spiritual maturity. They had not learned to distinguish between good and bad (Heb. 5:14). Like the eaglet, they hadn’t learned the difference between a twig and a fish. They still needed to be fed by someone else when they should have been feeding not only themselves but others as well (v.12).
While receiving spiritual food from preachers and teachers is good, spiritual growth and survival also depend on knowing how to feed ourselves.
You’ve given us Your Spirit, Lord,
To help us grow, mature, and learn,
To teach us from Your written Word,
So truth from error we’ll discern. —Sper
Baca Ibrani 5:12–6:2
Belajar Cari Makan Sendiri
Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar. —Ibrani 5:12
Bacaan Untuk Setahun:
Hakim-Hakim 13–15 * Lukas 6:27-49
Anak-anak elang itu sedang kelaparan, tetapi tampaknya induk elang betina dan elang jantan terus mengabaikan mereka. Yang paling tua dari tiga anak elang itu pun memutuskan untuk mengatasi rasa laparnya dengan mengunyah sepotong ranting. Karena memang tidak enak, anak elang itu segera membuangnya.
Ada yang mengusik saya pada adegan yang ditayangkan melalui kamera web dari Kebun Raya Norfolk ini. Seekor ikan besar tergeletak persis di belakang anak-anak elang itu. Hanya saja, mereka belum belajar mencari makan sendiri. Mereka masih bergantung pada induknya untuk mencabik makanan menjadi potongan-potongan kecil dan menyuapkannya ke mulut mereka. Namun, dalam beberapa minggu mendatang, kedua induk elang akan mengajari anak-anaknya cara mencari makan sendiri—salah satu pelajaran pertama mereka untuk bertahan hidup. Jika anak-anak elang ini tidak mempelajari keahlian mencari makan sendiri, mereka tidak akan dapat bertahan hidup.
Penulis kitab Ibrani membicarakan tentang masalah yang serupa dalam kehidupan rohani. Ada sejumlah anggota jemaat di gereja itu yang belum bertumbuh dewasa secara rohani. Mereka belum belajar membedakan yang baik daripada yang jahat (Ibr. 5:14). Seperti anak elang, mereka belum belajar membedakan antara sepotong ranting dengan seekor ikan. Mereka masih perlu diberi makan oleh orang lain ketika mereka seharusnya sudah dapat makan sendiri dan juga memberi makan orang lain (ay.12).
Memang baik menerima makanan rohani dari para pengkhotbah dan guru Alkitab, tetapi pertumbuhan dan ketahanan rohani kita juga tergantung pada kemampuan kita menyantap santapan rohani kita sendiri. —JAL
Tuhan, Engkau telah memberi kami Roh-Mu,
‘Tuk menolong kami bertumbuh, bertambah dewasa, dan belajar,
‘Tuk mengajar kami dari firman-Mu yang tertulis
Agar bisa membedakan yang salah dan yang benar. —Sper
Pertumbuhan rohani membutuhkan firman Allah sebagai makanan padat.
Our Daily Bread, April, 1, 2011
The eaglets were hungry, and Mom and Dad seemed to be ignoring them. The oldest of the three decided to solve his hunger problem by gnawing on a twig. Apparently it wasn’t too tasty, because he soon abandoned it.
What intrigued me about this little drama, which was being broadcast by webcam from Norfolk Botanical Garden, was that a big fish lay just behind the eaglets. But they had not yet learned to feed themselves. They still relied on their parents to tear their food in tiny pieces and feed it to them. Within a few weeks, however, the parents will teach the eaglets how to feed themselves—one of their first survival lessons. If the eaglets don’t learn this skill, they will never be able to survive on their own.
The author of Hebrews spoke of a similar problem in the spiritual realm. Certain people in the church were not growing in spiritual maturity. They had not learned to distinguish between good and bad (Heb. 5:14). Like the eaglet, they hadn’t learned the difference between a twig and a fish. They still needed to be fed by someone else when they should have been feeding not only themselves but others as well (v.12).
While receiving spiritual food from preachers and teachers is good, spiritual growth and survival also depend on knowing how to feed ourselves.
You’ve given us Your Spirit, Lord,
To help us grow, mature, and learn,
To teach us from Your written Word,
So truth from error we’ll discern. —Sper
Baca Ibrani 5:12–6:2
Belajar Cari Makan Sendiri
Bacaan Untuk Setahun:
Hakim-Hakim 13–15 * Lukas 6:27-49
Anak-anak elang itu sedang kelaparan, tetapi tampaknya induk elang betina dan elang jantan terus mengabaikan mereka. Yang paling tua dari tiga anak elang itu pun memutuskan untuk mengatasi rasa laparnya dengan mengunyah sepotong ranting. Karena memang tidak enak, anak elang itu segera membuangnya.
Ada yang mengusik saya pada adegan yang ditayangkan melalui kamera web dari Kebun Raya Norfolk ini. Seekor ikan besar tergeletak persis di belakang anak-anak elang itu. Hanya saja, mereka belum belajar mencari makan sendiri. Mereka masih bergantung pada induknya untuk mencabik makanan menjadi potongan-potongan kecil dan menyuapkannya ke mulut mereka. Namun, dalam beberapa minggu mendatang, kedua induk elang akan mengajari anak-anaknya cara mencari makan sendiri—salah satu pelajaran pertama mereka untuk bertahan hidup. Jika anak-anak elang ini tidak mempelajari keahlian mencari makan sendiri, mereka tidak akan dapat bertahan hidup.
Penulis kitab Ibrani membicarakan tentang masalah yang serupa dalam kehidupan rohani. Ada sejumlah anggota jemaat di gereja itu yang belum bertumbuh dewasa secara rohani. Mereka belum belajar membedakan yang baik daripada yang jahat (Ibr. 5:14). Seperti anak elang, mereka belum belajar membedakan antara sepotong ranting dengan seekor ikan. Mereka masih perlu diberi makan oleh orang lain ketika mereka seharusnya sudah dapat makan sendiri dan juga memberi makan orang lain (ay.12).
Memang baik menerima makanan rohani dari para pengkhotbah dan guru Alkitab, tetapi pertumbuhan dan ketahanan rohani kita juga tergantung pada kemampuan kita menyantap santapan rohani kita sendiri. —JAL
Tuhan, Engkau telah memberi kami Roh-Mu,
‘Tuk menolong kami bertumbuh, bertambah dewasa, dan belajar,
‘Tuk mengajar kami dari firman-Mu yang tertulis
Agar bisa membedakan yang salah dan yang benar. —Sper
Pertumbuhan rohani membutuhkan firman Allah sebagai makanan padat.
Our Daily Bread, April, 1, 2011
Langganan:
Postingan (Atom)