Sponsors

"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik." Luk. 4:18"

Theme Support

Agenda. ----- Retreat Presbiter GPIB Sejahtera Bandung, Sekesalam 27-28 Januari 2017, Pembina: Pdt Susy Rumeser-Thomas, MTh dan Pdt Stephen Sihombing, MTh ----- Penggalangan Dana Panitia Pembangunan gereja GPIB Sejahtera bandung, Minggu 22 Januari 2017 jam 08.00 WIB PF. Pdt. Jacoba Marlene Joseph, MTh ---- PS GPIB ke-XX 26-31 Oktober 2015, Swiss Bell Hotel, Balikpapan, Kalimantan Timur ---- Ibadah Minggu 26 Juli 2015 jam 07.00 --- Ibadah Nuansa Budaya Minahasa Minggu 26 Juli 2015 jam 09.00 Pdt. Drs. J. Sompotan, S.Th dan Pembinaan Presbiter Sabtu 25 Juli 2015 jam 17.00 ---- PF Minggu 19 Juli 2015 Sejahtera bandung 07.00 dan 09,00 --- Perjamuan Kudus Minggu 12 Juli 2015 Sejahtera Bandung 07.00 ---- Pembahasan Rantap PS XX GPIB di Hotel Marbela Bandung --- PF Minggu 5 Juli 2015 Sejahtera Bandung 07.00 dN 09.00 Peneguhan Pelayan dan Pengurus ke - 6 Pelkat --- PF Minggu 10 Nov 2013 di Jemaat Pondok Ungu jam 06.00 dan 10.00 --- Perayaan HUT GPIB ke-65, Selasa 5 Nov 2013 di Tenis Indoor Senayan Jakarta --- Pembinaan Penelaahan Alkitab di Wisma Kinasih, Bogor, Minggu 3 November 2013 ---- PF di jemaat Pondok Ungu Bekasi dan jemaat GPIB Kharis Jakarta 30 Juni 2013 ----- Pemilihan Korwil Pelkat Mupel Bekasi 4 Mei 2013 di jemaat GPIB Gloria Bekasi ----- Sertifikasi Pengajar katekisasi 18-20 April 2013 di MDC Gadog ---- Sidang tahunan dan Sidang Wilayah Mupel Bekasi 4-5 Maret 2013 di MDC Gadog ---- PF di Jemaat Pondok Ungu jam 6 dan 10.00 serta di Gloria Bekasi Minggu 3 Maret 2013 jam 17.30 WIB ---- PF di Jemaat Zebaoth Bogor beserta PS Jemaat GPIB Pondok Ungu jam 09.00 wib --- Pembinaan pelkat di Jemaat GPIB Marturia Jakarta Timur 2 Maret 2013 jam 18.30 ---- Lokakarya RKA GPIB Pondok Ungu, 1-2 maret 2013 di Vila Saiya Cipayung, Bogor --- PST GPIB di Makassar 19-21 Februari 2013 ---PF di GPIB Pondok Ungu jam 10.00 dan di GPIB Efatha Jakarta jam 17.00 Minggu 10 Februari 2013 --- SMJ GPIB Pondok Ungu Triwulan 3, Minggu 10 Februaru 2013 ---- Peneguhan Pelkat GPIB Pondok Ungu 3 Februari 2012 oleh Pdt PH Sitorus, MSi ----- Perjamuan Kudus 10 Oktober 2012 di GPIB Pondok Ungu, jam 06.00 dan 10.00 WIB, ---- Peneguhan Diaken dan Penatua GPIB Pondok Ungu 2012-2017 pada Minggu, 23 September 2012 yang dilayani peneguhannya oleh Pdt. Marlene Josep, STh dan didampingi Pdt. SGR Sihombing, MTh, Pdt. Kolanus, MMin, Pdt. Hilda Sihasale, MMin, Pdt. Dina haba STh ---- Perjamuan Kudus Minggu Pentakosta, Minggu, 1 Juli 2012 jam 06.00 dan 10.00 WIB, Pemilihan Diaken dan Penatua GPIB Tahap Penetapan pada hari Minggu, 1 Juli 2012, Lokakarya Penulisan Sabda GPIB, 5-6 Mei 2012, TOT Pendeta materi bina diaken dan penatua, 3-4 Mei 2012 di Kinasih, Caringin Bogor, Lokakarya Materi Bina tahap II, 30 April-2 Mei 2012 di Ruang MS GPIB, Pelayanan Ibadah Minggu, 29 April 2012, Pelayanan Ibadah Minggu 31 Juli 2011 di jemaat GPIB PUP jam 10.00 wib --- SMJ GPIB PUP Triwulan 1, 31 Juli 2011 jam 12.00 wib, --- Pelayanan Ibadah Minggu, 22 Mei 2011 di jemaat GPIB Harapan Kasih jam 09.00 wib ---- 15 Mei 2011 di jemaat GPIB Menara Kasih, Bekasi, --- 8 Mei 2011 di jemaat GPIB Sion, Jakarta Barat jam 10.00 wib dan GPIB Efatha, Jakarta Selatan jam 17.00 wib, --- Pelayanan Ibadah Minggu, 1 Mei 2011, GPIB Pondok Ungu, Bekasi jam 06.00 wib dan 10.00 wib --- Ibadah Paskah, Minggu 24 April 2011, jam 05.00 wib ---- Perjamuan Kudus Jumat Agung, 22 April 2011, jam 06.00 dan 10.00 wib ---- Peneguhan anggota sidi baru, 17 April 2011, jam 10.00 wib ----, Retret Katekisasi terpadu GPIB Pondok Ungu, Harapan Indah, Harapan Baru dan Dian Kasih, 1-3 April 2011,---- Lokakarya Penyusunan RKA Sabtu, 26 Maret 2011 jam 13.00 --- Sidang Majelis Jemaat Triwulan 4, Minggu 24 April 2011, jam 12.00 WIB ---Pelayanan Minggu di jemaat GPIB Anugerah Bekasi jam 09.00 dan GPIB Harapan Kasih jam 18.00 ---.
Tampilkan postingan dengan label Kitab Matius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab Matius. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Februari 2011

Khotbah Matius 18:28-35

Mengampuni dengan segenap hati

Pengampunan sering dipahami sebagai relasi antara manusia dengan Tuhan Allah. Bukankah selalu dikatakan Tuhan Maha pengasih dan Maha pengampun? Pengampunan hanyalah milik Tuhan sebab Tuhan dapat mengampuni seberat apapun salah dan dosa manusia. Namun kalau pengampunan itu dimintakan dari pihak manusia, maka manusia tidak dapat bertindak seperti Tuhan. Manusia memiliki keterbatasan termasuk dalam soal mengampuni.  Bisa mengampuni tetapi ada batasannya, ada kalkulasinya, ada hitungannya! Pengampunan itu harus rasional!

Persoalan inilah yang diajukan Petrus kepada Tuhan Yesus: Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku? Sampai tujuh kali? (18:1). Benarkah memang manusia harus membatasi diri dalam mengampuni sesamanya yang bersalah? Bagaimana sebenarnya ajaran Tuhan Yesus dalam hal mengampun bagi kita sebagai pengikut Tuhan Yesus?

Tuhan Yesus dengan ringkas menjawab pertanyaan Petrus bahwa bukan 7 x mengampuni melainkan : 70x7x! Pengampunan itu tidak terbatas, setiap hari, sepanjang tahun. Mengapa demikian? Tuhan Yesus menjawabnya dengan sebuah perumpamaan tentang hamba yang diampuni Raja karena hutangnya 10.000 talenta (Cat. 1 Talenta = 6.000 dinar. Jadi  10.000  talenta x 6.000 = 60.000.000 dinar; sementara  1 dinar = upah kerja sehari dan dikoversi Upah harian=  + Rp. 30.000/hari. Nilai rupiah 10.000 talenta berarti Rp. 30.000 x 60.000.000 hari = 1.8 trilyun). Sementara hamba itu memenjarakan temannya yang berhutang 100 dinar (100 dinar x Rp. 30.000 = Rp. 3.000.000) kepadanya.

Hamba itu hanya mau menerima pengampunan dan tidak mau melakukan yang sama saat orang lain bersalah kepadanya. Hutangnya yang besar dapat dibebaska Raja dan saat orang lain berhutang, sama sekali tidak ada belas kasihan. Hamba ini tidak mau menerima temannya memohon keringanan. Perlakuan yang tidak adil itu yang kemudian dipertanyakan Raja, Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?  (ay. 33) Ketidakmauan mengampuni adalah kesalahan besar. Di situ Raja bersikap tegas. Hamba itu dihukum untuk segera melunasi hutang-hutangnya.

Dengan contoh ini, Tuhan Yesus  mengajarkan kepada murid-muridNya bahwa pengampunan Allah dapat dipraktekkan murid-murid Yesus sebab Allah mengampuni manusia yang berdosa tanpa hitung-hitungan. Pengampunan Allah sudah dialami saat manusia berdoa mohon agar kesalahan dan dosanya diampuni, dibebaskan dari hukuman. Manusia yang sadar dan mengakui salah dan dosanya, pasti tidak mau mendapat hukuman dan kebinasaan. Pengampunan Allah yang diterima dengan iman, membantu orang beriman melakukan yang sama: mengampuni saudaranya yang bersalah dengan sepenuh hati. Jadi pengampunan itu dapat dilakukan seberat apapun kesalahannya sebab kita menerima hati yang mengampuni yang diberikan Allah dalam hidup kita.

Kesalahan utama manusia bahwa  kita cepat berdoa mohon pengampunan Allah tetapi lambat mengampuni yang bersalah. Sikap demikian jelas karena ketidakmauan kita melakukan perintah Allah. Kita mau menang sendiri dan hanya menuntut orang lain berlaku baik bagi kita. Di sinilah kita diingatkan untuk menghayati kasih Allah yang telah mengampuni dosa kita . Sudahkah kasih Allah kita alami dengan sempurna dalam hidup kita? Maukah kita menjadi anak-anak Allah yang tergerak melakukan yang sama? Kita  perlu berdoa dengan sikap hati yang benar bahwa sebenarnya hidup kita pun tidak berkenan bagi Allah; memalukan namaNya yang kudus dan kekal.

Mengampuni adalah kehendak Allah yang perlu kita lakukan. Mengampuni suami; istri; anak-anak; pimpinan; rekan sekerja; tetangga; saudara seiman; bahkan diri sendiri. Dengan mengampuni, maka kita mengalami kasih Tuhan yang berlanjut; kasih yang diperbaharui; kasih yang sempurna. Dengan mengampuni, orang lain juga dapat mengalami kasih Allah; hidup mereka diberkati; hidup mereka dipulihkan; hidup mereka ada dalam damai sejahtera Allah. Hidup dalam kebahagiaan dapat dialami saat kita diampuni dan mengampuni saudara kita.

Kita hanya dapat mengampuni  dengan benar jika hati kita berpaut kepada Allah. Jadi bukan karena kuasa kita; bukan karena hitung-hitungan; bukan semata karena ingin dipuji orang atau karena momen tertentu (hari natal; paskah; atau saat sakit). Karena itu mohonlah Roh pengampunan dalam hidup kita agar kita terlepas dari dosa dendam dan kebencian. Anak-anak Allah; kita semua diberi otoritas mengampuni agar damai sejahtera Allah dialami banyak orang dan Allah dipermuliakan lewat hidup kita. Bersukacitalah jika kita mau melakukan kehendak Allah dengan segenap hati. "Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:44). Amin.

Jumat, 14 Januari 2011

Khotbah Matius 6:1-4

Memberi dengan tulus


Sidang Jemaat yang dikasihi Tuhan, 
Satu dari tiga kewajiban agama Yahudi adalah bersedekah. Yang lainnya: berdoa (6:5-13) dan berpuasa (6:16-18). Dalam melaksanakan kewajiban agama itu, Tuhan Yesus menekankan pentingnya  kerendahan hati dan bukannya kesombongan. Jangan sombong saat bersedekah, jangan sombong saat berdoa, jangan sombong saat berpuasa. 

Bersedekah atau berderma artinya memberi sesuatu, makanan atau bantuan uang  bagi orang yang berkekurangan dan miskin. Kewajiban bersedekah diperintahkan dalam Ulangan 15:7-11 saat umat Tuhan hidup dalam berkat Allah. Diajarkan bahwa bersedekah kepada orang miskin adalah kehendak dan perintah Allah: “jangan engkau menegarkan hati … tetapi engkau harus membuka tanganmu lebar-lebar baginya… janganlah engkau berdukacita apabila engkau memberi kepadanya sebab oleh karena hal itulah Tuhan Allahmu akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu.”

Dalam khotbah di bukit, Tuhan Yesus mengajarkan agar kewajiban agama dilakukan dengan motivasi benar yang terarah kepada Allah dan bukan untuk kepentingan pribadi. Bersedekah berarti menjalankan kebenaran sebagaimana yang dikehendaki Allah agar manusia saling mengasihi. Namun jika bersedekah menjadi sarana pengkultusan diri dan meraih popularitas, maka kegiatan ibadah itu tidak memiliki nilai kekekalan sedikitpun.  Sikap demikian hanya menciptakan umat beragama yang munafik ( bahasa Yunani yaitu hypokrites artinya adalah orang yang bermain sandiwara). Umat beragama yang hidup dalam kepalsuan; umat beragama yang hidup dalam kepura-puraan, sebab beragama bukan untuk menyenangkan hati Tuhan sumber segala berkat, tetapi untuk disanjung orang lain sebagai dermawan murah hati dan menutupi perilaku buruk dalam hidupnya sendiri. Tuhan Yesus mengingatkan: “Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” Kemunafikan dalam beragama tidak mendatangkan manfaat positif bagi kehidupan beriman sebab pemberian sedekah itu mempunyai maksud terselubung: ada udang dibalik batu. Kemunafikan beragama tidak menolong umat beragama menyenangkan hati Allah sebab perbuatan sedekah itu dilakukan dengan hati jahat untuk memuliakan diri sendiri di depan orang lain. 

Bahaya dari kemunafikan demikian hanya dapat diatasi jika umat bersedekah dengan hati yang bersih dan tulus semata-mata untuk memuliakan Tuhan. “Janganlah diketahui apa yang diperbuat tangan kananmu”. Bantuan kita sedapatnya tidak diketahui orang lain, bahkan kepada saudara terdekat. Memamerkan kebaikan pribadi tidak pada tempatnya bagi orang beriman. Memberi bukan untuk memperoleh simpati dan pujian dari manusia. Berilah sedekah dengan tersembunyi. Memberi dengan sembunyi berarti kehendak dan perintah Allah lebih utama dari kepentingan pribadi.  Memberi dengan sembunyi berarti hidup dalam penyangkalan diri, menolak untuk mencuri kemuliaan Tuhan dan tenar diatas penderitaan orang lain. Memberi dengan sembunyi menyukakan hati Tuhan sebab apa yang dilakukan dengan sembunyi dilihat dengan jelas oleh Tuhan. Memberi dengan tersembunyi mendatangkan berkat Allah bagi mereka yang tulus hati.

Pengajaran Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa sebagai umat  beragama kita memiliki kewajiban yang harus dilakukan dengan benar. Bersedekah atau berdiakonia jangan dinilai sebagai kegiatan ibadah dengan bobot rendah dibanding perayaan natal.  Bersedekah bagi yang miskin sama seperti melayani Tuhan Yesus (Lih. Mat. 25:45). Kita diajarkan untuk berbagi berkat dengan mereka yang berkekurangan.  Ajakan untuk membantu yang susah, perlu dihayati lebih mendalam agar kita dapat melakukan apa yang dikehendaki dan diperintahkan Allah.  Sebagai umat Tuhan, kita tidak bisa tinggal diam dan menutup mata jika melihat sesama yang membutuhkan sesuatu. Jika ada saudara  kita yang membutuhkan bantuan makanan, keuangan atau nasihat dan doa,  seharusnya kita tidak cepat-cepat berkata tidak mampu menolong mereka.  Berusahalah membantu dengan ketulusan, bukan untuk membebani dengan bunga uang yang tinggi atau barang yang harus disita. Ajaran Tuhan Yesus dengan jelas mengingatkan agar kita tidak menjadi umat yang munafik dalam beragama. Jangan kita mencuri kemuliaan Tuhan karena pemberian-pemberian kita sekalipun pemberian itu nilainya besar. Memberilah dengan rendah hati dan bersyukurlah jika tangan kita terbuka lebar untuk memberkati. Kemunafikan dalam beragama hanya mendatangkan dosa (Yakobus 4:6-8). 

Kemunafikan harus diubah dengan cara mengikuti apa yang diperintahkan Allah: berilah dengan sembunyi. Memberi dengan sembunyi berarti terbuka kesempatan kita membantu orang lain tanpa membedakan suku atau agamanya. Saudara dapat memberi waktu saudara mengajarkan anak-anak putus sekolah. Saudara dapat memberikan bantuan modal bagi mereka yang mau berusaha. Saudara bisa menyumbangkan pakaian atau darah bagi yang membutuhkannya. Saudara dapat membantu anggota diakoni gereja dengan bantuan sembako. Pemberian-pemberian yang  bisa jadi tidak diketahui orang, sebenarnya diketahui Allah dengan terang benderang.  Allah memberkati pemberian sedekah itu dan memberikan berkat bagi pekerjaan dan usaha kita (Ulangan 15:11). Sikap memberi dengan rendah hati menjadi kunci untuk mengerti kasih Allah yang memberkati. Memang benar,  memberi dengan sembunyi membuat kita tidak terkenal dan tidak dipuji manusia, namun dihadapan Allah Sumber Berkat dan Pertolongan, hidup kita mulia dan berharga.

Firman Allah mengajarkan kita untuk tidak lalai menjalankan perintah Tuhan membantu yang susah. Yang susah itu bisa jadi tetangga kita, rekan sekerja, saudara seiman atau orang tua kita sendiri. Bantulah kesusahan saudara kita itu dengan sukacita dan tulus. Allah mau agar hidup iman kita kepadaNya mendatangkan kegembiraan bagi orang lain dan Allah mengingat baik segala perbuatan baik kita. Dengan motivasi ibadah yang benar dalam membantu maka cinta kasih kita kepada Tuhan Yesus semakin berakar dan berbuah. Kita pun mau bahwa  hidup kita berbuah bagi kemuliaan Tuhan (Filipi 1:22). Jadi dengan motivasi ibadah yang benar, maka kita pun  terhindar sebagai orang-orang munafik yang dicela Tuhan Yesus. Kiranya dengan pertolongan Roh Kudus, kita menjadi orang-orang Kristen  murah hati yang mau menjadi saluran  berkat Allah bagi sesama. Amin.


Khotbah Minggu, 16 Januari 2011 di Jemaat GPIB Imanuel, Bekasi

Jumat, 24 Desember 2010

Khotbah Matius 2:1-2

Menyembah Raja di atas segala raja

Sidang jemaat yang dikasihi Allah,
Hari Natal menjadi momen indah bagi orang beriman sebab natal mengingatkan kita tentang (1) kasih Allah yang besar bagi manusia: bahwa Allah bersedia menjumpai manusia dalam keadaan apapun, (2) tentang kehidupan keluarga yang diberkati Allah seperti keluarga Yusuf dan Maria yang hidup dalam kasih karunia Allah, dan (3) tentang penyembahan sejati kepada Allah seperti yang dilakukan orang-orang Majus dari Timur.

Orang-orang majus dari Timur diakui berasal dari kalangan pandai dan kaya dari Babilonia, wilayah Irak.  Mereka bukanlah orang Israel, mereka non-yahudi. Mereka adalah imam-imam agama Zoroaster. Mereka adalah para penyembah dewa Ahuramazda (Ormuz) yang artinya dewa kebaikan dan dewa terang. Mereka percaya bahwa bintang yang mereka lihat itu adalah representasi kehadiran Allah yang membawa kebaikan bagi manusia. Untuk itu mereka bersedia melakukan suatu perjalanan yang sangat jauh dari Babel (Irak) menuju tanah Kanaan, Israel dan kota Yerusalem. Di kota Yerusalem itulah, orang-orang Majus bertanya kepada penduduk: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia" (Mat. 2:2). Mereka bertanya saat mereka berada di pusat kekuasaan politik (pemerintahan raja Herodes) dan agama (ahli taurat dan imam-imam Yahudi).

Pertanyaan orang-orang Majus ini memperlihatkan tujuan dan niat hati mereka yang terdalam. Mereka bukan sedang membangun kekuatan politik baru atau menciptakan agama baru. Mereka datang  bukan untuk kepentingan duniawi. Mereka sudah beroleh  petunjuk lewat bintangNya yang memimpin mereka dari tempat yang jauh. Mereka percaya bahwa yang lahir itu adalah Raja di atas segala raja. Sekarang, para majus yang pintar dan kaya itu hendak menyembah Tuhan Yesus, bayi yang lahir di Betlehem.
Tujuan dan niat mereka adalah menyembah Allah, untuk datang mempermuliakan, menghormati, tunduk dan takluk dihadapan Yesus. Mereka datang bukan untuk menyembah raja Herodes, tetapi menyembah Tuhan Yesus. Mereka menempatkan Tuhan Yesus sebagai Raja yang mendatangkan bagi manusia dan alam semesta. Allah sudah memperlihatkan kuasaNya dengan petunjuk bintang di langit dan mereka percaya bahwa yang lahir itu adalah Raja yang patut disembah oleh umat manusia.

Kedatangan orang Majus ke Betlehem, menunjukkan bahwa keselamatan Allah itu dapat dianugerahkan kepada siapa saja, yang benar mencari dan mendapatkan Tuhan Yesus dengan segala daya upaya, dengan kesungguhan hati dan komitmen yang teguh. Orang majus mengingatkan kita bahwa kepandaian dan kekayaan itu bukan segala-galanya. Kepandaian dan kekayaan bukan untuk disembah. Kepandaian dan kekayaan itu harusnya digunakan untuk mendekatkan diri kita kepada Allah, untuk membuat kita menjadi penyembah-penyembah Tuhan Yesus.  Orang-orang majus itu mempersembahkan kekayaan dan kepandaiannya untuk dapat bertemu Yesus. Mereka tidak rugi dengan memberikan emas, kemenyan dan mur (2:11). Mereka juga tidak malu untuk bertanya, termasuk bertanya kepada raja herodes yang lalim dan bengis itu (2:7-8).  Kepandaian dan kekayaan telah membantu mereka untuk dapat bertemu dengan Tuhan Yesus dan menyembahNya sebaga Raja yang membawa keselamatan bagi umat manusia (2: 11).


Di hari Natal kedua ini, saat keluarga-keluarga Kristen membawa anak kekasih untuk di baptis, sebagai umat Tuhan kita diingatkan pertama, untuk tidak menjadikan kekayaan dan kepandaian sebagai tujuan akhir. Jika kita boleh dianugerahi kekayaan dan kepandaian, maka semakin taatlah kita dalam penyembahan kepada Allah dan berlakulah hormat kepada Allah dalam hidup ini. Sebagai orang tua, kita mendidik anak-anak kita menjadi orang pandai dan berhasil sekaligus sebagai anak-anak yang percaya kepada Tuhan Yesus. Mari kita doakan anak-anak kita  tidak hanya berhasil dalam pendidikan dan pekerjaannya, tetapi yang terutama mereka semakin mengasihi dan selalu menyembah Tuhan Yesus dimanapun mereka berada. Kita dapat kehilangan damai sejahtera natal jika kita membiarkan anak-anak kita berada dalam jalan kegelapan. Natal mengajak kita untuk berdamai dan menjumpai orang-orang yang kita kasihi apapun kesalahan mereka agar kita dapat menyatakan pengampunan dan kasih Allah.

Kedua, para Majus mempersembahkan waktu, pikiran, tenaga, dan harta benda mereka untuk dapat bertemu Tuhan Yesus dan menyembahNya dari dekat.  Persekutuan dengan Tuhan Yesus dilakukan dalam kebersamaan. Pengetahuan kita tentang keselamatan didalam Tuhan Yesus  mendorong kita selalu bersekutu dalam penyembahan yang benar dengan saudara-saudara seiman. Semoga rahmat Allah senantiasa membimbing saudara seperti para Majus yang dibimbing dengan bintangNya untuk datang ke rumah Allah, datang bergereja, datang menyembah Tuhan Yesus. Percayalah bahwa  kuasa Roh Kudus menjadi pemandu  yang selalu mengajak kita untuk bersekutu, bertobat dan hidup baru dalam kebenaran FirmanNya. Jadi pekalah terhadap suara Tuhan yang memanggil dan mengundang kita untuk duduk di sekitar FirmanNya, menjadi pelaku Firman.

Ketiga, orang-orang Majus menjadi contoh bagi kita agar menjadi orang-orang Kristen yang berani bersaksi  dan setia menyembah Tuhan Yesus sekalipun berada di tengah orang-orang yang membenci nama Yesus. Para Majus itu dibimbing Allah dengan bintangNya (ay. 2) dan diselamatkan Allah lewat mimpi di malam hari (ay.12).   Kita pun senantiasa berada dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah jika kita setia bersaksi dan menyembah Tuhan Yesus sebagai Raja dalam hidup kita, sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat pribadi dan keluarga kita. Semoga kesaksian dan penyembahan kita kepada Tuhan Yesus selama ini, kita lakukan dengan sukacita dan kerendahan hati sehingga hari raya natal ini benar memberikan damai sejahtera bahwa Yesus adalah Raja diatas segala raja yang kepadaNya kita memuji dan mengucap syukur. Hanya Tuhan Yesuslah Raja di hati kita dan kita mau hidup dalam damai sejahteraNya dan berdamai dengan semua orang. Selamat hari natal. Damai sejahtera Allah dan sukacita natal memberkati dan menyertai  kita. Amin.

Khotbah Minggu pada hari Natal 2, 26 Desember 2010.