Sponsors

"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik." Luk. 4:18"

Theme Support

Agenda. ----- Retreat Presbiter GPIB Sejahtera Bandung, Sekesalam 27-28 Januari 2017, Pembina: Pdt Susy Rumeser-Thomas, MTh dan Pdt Stephen Sihombing, MTh ----- Penggalangan Dana Panitia Pembangunan gereja GPIB Sejahtera bandung, Minggu 22 Januari 2017 jam 08.00 WIB PF. Pdt. Jacoba Marlene Joseph, MTh ---- PS GPIB ke-XX 26-31 Oktober 2015, Swiss Bell Hotel, Balikpapan, Kalimantan Timur ---- Ibadah Minggu 26 Juli 2015 jam 07.00 --- Ibadah Nuansa Budaya Minahasa Minggu 26 Juli 2015 jam 09.00 Pdt. Drs. J. Sompotan, S.Th dan Pembinaan Presbiter Sabtu 25 Juli 2015 jam 17.00 ---- PF Minggu 19 Juli 2015 Sejahtera bandung 07.00 dan 09,00 --- Perjamuan Kudus Minggu 12 Juli 2015 Sejahtera Bandung 07.00 ---- Pembahasan Rantap PS XX GPIB di Hotel Marbela Bandung --- PF Minggu 5 Juli 2015 Sejahtera Bandung 07.00 dN 09.00 Peneguhan Pelayan dan Pengurus ke - 6 Pelkat --- PF Minggu 10 Nov 2013 di Jemaat Pondok Ungu jam 06.00 dan 10.00 --- Perayaan HUT GPIB ke-65, Selasa 5 Nov 2013 di Tenis Indoor Senayan Jakarta --- Pembinaan Penelaahan Alkitab di Wisma Kinasih, Bogor, Minggu 3 November 2013 ---- PF di jemaat Pondok Ungu Bekasi dan jemaat GPIB Kharis Jakarta 30 Juni 2013 ----- Pemilihan Korwil Pelkat Mupel Bekasi 4 Mei 2013 di jemaat GPIB Gloria Bekasi ----- Sertifikasi Pengajar katekisasi 18-20 April 2013 di MDC Gadog ---- Sidang tahunan dan Sidang Wilayah Mupel Bekasi 4-5 Maret 2013 di MDC Gadog ---- PF di Jemaat Pondok Ungu jam 6 dan 10.00 serta di Gloria Bekasi Minggu 3 Maret 2013 jam 17.30 WIB ---- PF di Jemaat Zebaoth Bogor beserta PS Jemaat GPIB Pondok Ungu jam 09.00 wib --- Pembinaan pelkat di Jemaat GPIB Marturia Jakarta Timur 2 Maret 2013 jam 18.30 ---- Lokakarya RKA GPIB Pondok Ungu, 1-2 maret 2013 di Vila Saiya Cipayung, Bogor --- PST GPIB di Makassar 19-21 Februari 2013 ---PF di GPIB Pondok Ungu jam 10.00 dan di GPIB Efatha Jakarta jam 17.00 Minggu 10 Februari 2013 --- SMJ GPIB Pondok Ungu Triwulan 3, Minggu 10 Februaru 2013 ---- Peneguhan Pelkat GPIB Pondok Ungu 3 Februari 2012 oleh Pdt PH Sitorus, MSi ----- Perjamuan Kudus 10 Oktober 2012 di GPIB Pondok Ungu, jam 06.00 dan 10.00 WIB, ---- Peneguhan Diaken dan Penatua GPIB Pondok Ungu 2012-2017 pada Minggu, 23 September 2012 yang dilayani peneguhannya oleh Pdt. Marlene Josep, STh dan didampingi Pdt. SGR Sihombing, MTh, Pdt. Kolanus, MMin, Pdt. Hilda Sihasale, MMin, Pdt. Dina haba STh ---- Perjamuan Kudus Minggu Pentakosta, Minggu, 1 Juli 2012 jam 06.00 dan 10.00 WIB, Pemilihan Diaken dan Penatua GPIB Tahap Penetapan pada hari Minggu, 1 Juli 2012, Lokakarya Penulisan Sabda GPIB, 5-6 Mei 2012, TOT Pendeta materi bina diaken dan penatua, 3-4 Mei 2012 di Kinasih, Caringin Bogor, Lokakarya Materi Bina tahap II, 30 April-2 Mei 2012 di Ruang MS GPIB, Pelayanan Ibadah Minggu, 29 April 2012, Pelayanan Ibadah Minggu 31 Juli 2011 di jemaat GPIB PUP jam 10.00 wib --- SMJ GPIB PUP Triwulan 1, 31 Juli 2011 jam 12.00 wib, --- Pelayanan Ibadah Minggu, 22 Mei 2011 di jemaat GPIB Harapan Kasih jam 09.00 wib ---- 15 Mei 2011 di jemaat GPIB Menara Kasih, Bekasi, --- 8 Mei 2011 di jemaat GPIB Sion, Jakarta Barat jam 10.00 wib dan GPIB Efatha, Jakarta Selatan jam 17.00 wib, --- Pelayanan Ibadah Minggu, 1 Mei 2011, GPIB Pondok Ungu, Bekasi jam 06.00 wib dan 10.00 wib --- Ibadah Paskah, Minggu 24 April 2011, jam 05.00 wib ---- Perjamuan Kudus Jumat Agung, 22 April 2011, jam 06.00 dan 10.00 wib ---- Peneguhan anggota sidi baru, 17 April 2011, jam 10.00 wib ----, Retret Katekisasi terpadu GPIB Pondok Ungu, Harapan Indah, Harapan Baru dan Dian Kasih, 1-3 April 2011,---- Lokakarya Penyusunan RKA Sabtu, 26 Maret 2011 jam 13.00 --- Sidang Majelis Jemaat Triwulan 4, Minggu 24 April 2011, jam 12.00 WIB ---Pelayanan Minggu di jemaat GPIB Anugerah Bekasi jam 09.00 dan GPIB Harapan Kasih jam 18.00 ---.
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Februari 2011

Pemburu Air Mata

Buat penggemar matahari, malam selalu menakutkan. Karena hanya pada malam, semua khayalan tentang iblis dan hantu memiliki tempatnya. Malam entah kenapa selalu memecahkan rongga-rongga dada dan membuat denyut jantung lebih cepat.

Terkadang gemerisik angin terlembut pun entah kenapa tetap membuat helaan napas menjadi lebih berat. Malam adalah waktu di mana hanya boleh dimiliki oleh orang-orang yang menahbiskan dirinya pada kekuatan hati. Benar hanya orang yang berhati kuat yang akan berani menghadapi malam. Seperti para pemberani di desaku. Suatu tempat amat elok di kaki gunung Jaganmantri. Gunung yang kontur tanahnya menyerupai payudara ranum ibu yang baru melahirkan itu benar-benar sangat cantik. Ibu semesta begitu setiap kali ada orang yang bertanya tentang arti Jaganmantri.

Desaku sangat indah luar biasa. Setiap pagi saat matahari pertama kali menyetubuhi bumi, genting-genting rumah berkilauan bersahut-sahutan dan dari kilau itu bermunculan warna-warni seperti pelangi yang menyilaukan memantul ke angkasa. Seperti selendang para bidadari bertebaran di langit yang begitu tampak selalu tertawa. Seluruh negeri ini tahu bahwa pantulan kilau dari genting itu adalah air mata yang membeku sehingga bisa dibentuk apa saja. Benar semua benda di desaku terbuat dari kristal-kristal airmata yang membeku. Mulai dari jalan desa, rumah-rumah, bahkan beberapa baju yang dipakai penduduk tebuat dari pintalan warna-warni kristal airmata.

Tidak ada satu orang pun tahu siapa yang pertama kali membuat adonan airmata sehingga bisa dibentuk menjadi apa saja itu. Desaku menjadi desa terindah di seluruh negeri dan airmata adalah hal yang sangat biasa ditemukan di sini. Penduduk desaku hidup dari airmata. Apapun yang kami lakukan selalu diiringi airmata. Bahkan ketika di saat-saat bahagia sekalipun, saat bersenang-senang, airmata selalu harus hadir di sana. Kami tidak mengenal airmata kesedihan ataupun kebahagiaan. Kami hanya mengenal airmata adalah napas. Seperti detak jantung yang berdentam setiap detik, airmata di desa ini pun adalah hidup mereka. Di sini diyakini orang yang semakin mengeluarkan airmata adalah orang yang benar-benar bahagia. Tak heran salah satu seniman nomor satu di desa ini mampu membuat satu komposisi dari lolongan tangis dan tawa sekaligus.

Konon komposisi ini pernah ditawar salah satu produsen besar dari ibukota, tapi seniman itu tak melepaskan karena si produser ternyata tidak bisa mengeluarkan airmata. Ke mana pun penduduk desa ini pergi mereka tampak selalu membawa tas berisi botol besar air mineral kosong dan spons. Karena ketika airmata merekan mengucur deras, segera disapunya dengan spons dan diperas hati-hati ke dalam botol air mineral tersebut. Sangat lazim telihat orang-orang membawa lebih dari satu botol. Airmata dari botol-botol tersebut terus dikumpulkan ke dalam sebuah koperasi unit desa untuk kemudian diolah menjadi potongan 2 baluk kristal airmata sebagai bahan dasar apa pun benda di desa itu. Potongan-potongan kristal itu terus diolah menjadi berbagai macam kebutuhan.

Begitulah desaku begitu damai dan nyaman penuh keberlimpahan dengan airmata. Airmata yang menjadi hidup dan juga bahagia. Orang-orang sederhana dengan airmata bercucuran ternyata membuat hati orang-orang di desaku menjadi orang-orang kuat luar biasa. Orang-orang yang pemberani. Bahkan malam dengan kepekatan akan duka sekalipun tak mampu membuat mereka menghindar dari gulita. Setiap menjelang senja, saat roh-roh tua mulai ingin mengembara, para lelaki di desaku segera keluar menghadap ke barat. Dengan penuh cinta dibungkukkan badan mereka dalam sikap berdoa. Mereka tidak menganggap matahari itu Tuhan, tetapi mereka percaya saat matahari mulai membakar kaki langit dengan ujung-ujung lidah apinya sehingga langit berubah kemerahan, saat itu pula seluruh alam raya ini menangis sejadi-jadinya. Nah, karena tangisan alam raya inilah maka mereka membungkuk menghormatinya karena mereka merasa bahkan alam raya turut merestui tangisan-tangisan yang mereka haturkan sebagai puja. Sungguh jika malaikat kesayangan Tuhan sekalipun pasti akan selalu merasa senang tinggal di desa itu. Desa yang penuh air mata, tetapi begitu bahagia luar biasa ini. Hingga suatu hari ada yang merubah segalanya.

Awalnya terjadi dari kedatangan salah satu warga yang sudah lama merantau. Entah karena sudah lama merantau hingga lupa bagaimana caranya mengeluarkan air mata atau memang dia tidak mau lagi mengeluarkan air matanya. Tentu saja pada awalnya para penduduk terheran-heran bagaimana bisa lelaki itu tidak lagi mengeluarkan air mata. Ketika ditanya mengapa dia tidak mengeluarkan air mata oleh kepala desa yang diyakini sangat sakti karena mampu mengeluarkan air mata seputih susu sungai-sungai sorga itu, jawabannya sungguh mengglegarkan “Airmata hanya untuk para perempuan. Lelaki tidak menangis. Karena hanya lelaki pengecut saja yang menangis.” Sungguh, kalimat itu seperti angin puting beliung yang merontokkan semua peradaban dalam satu helaan napas. Semua lelaki yang mendengarnya langsung tanpa sadar menghentikan air matanya. Sejak saat itu, terjadilah proses penghentian besar-besaran air mata oleh para lelaki di desa itu. Wajah-wajah lelaki di desa itu yang tadinya begitu ringan dan penuh dengan harapan, tiba-tiba menjadi tegang dan tampak sekali ada desakan-desakan air yang mati-matian ditahan di dalam sekat-sekat dadanya. Benar, lelaki tidak menangis. Begitu jargon baru yang terjadi didesa itu dan itu fatal.

Sejak saat itu pula para lelaki menempatkan dirinya lebih tinggi daripada para perempuan di desa itu. Lelaki-lelaki yang tadinya mau membantu para perempuannya memasak, menjahit dan mengurus anak tiba-tiba menjadikan diri mereka tuan. Air mata hanya milik kaum perempuan. Karena hal ini, maka sejak hari lelaki berhenti menangis, tidak ada lagi lelaki yang membawa botol mineral kemana-mana. Koperasi pengolah air mata mulai kesulitan pasokan karena hanya kaum perempuanlah yang menyetor air mata. Tentu saja pasokan itu tidak akan cukup mensuplai kebutuhan. Terlebih kompisisi mineral air mata lelaki dan perempuan berbeda. Balok-balok kristal air mata menjadi menurun kualitasnya. Orang akhirnya mencampurnya dengan air untuk memproduksi apa saja. Tentu saja ini sama sekali menghancurkan. Setiap pagi pelangi-pelangi yang berkilau karena terpaan matahari di atap-atap kristal air mata rumah-rumah penduduk mulai berkurang kadar warnanya. Meredup pelan-pelan seperti detak jarum yang berputar terbalik, makin lama warna itu makin samar dan begitu tipisnya.

Desa itu benar-benar menjadi desa yang sedih sesedih-sedihnya. Air mata menjadi barang langka, tetapi kesedihan menjadi begitu berakar. Hingga satu hari koperasi pengelola balok kristal air mata itu menyatakan bangkrut. Mereka tak sanggup lagi berproduksi karena suplai air mata hampir tidak ada lagi. Air mata yang tersedia begitu buruk kualitasnya karena hanya air mata perempuan sehingga tidak mampu lagi membuat kristal yang solid tanpa air mata lelaki. Ketika menyadari bahwa balok kristal air mata tidak ada lagi, mulailah mereka panik. Kepala desa membunyikan kentongan tanda para lelaki harus berkumpul, “Ini sebuah kesalahan, lelaki boleh menangis karena kita butuh air mata untuk kelangsungan hidup kita, mari kita menangis lagi.” Dia pun mulai mengejap-kejapkan matanya untuk memanggil roh air mata agar kembali hadir, tanpa sadar semua lelaki yang hadir mengikutinya. Tetapi roh air mata mereka memang sudah tidak ada lagi. Mereka pun mulai panik. Semakin keras mereka berusaha, semakin air mata tidak lagi keluar. Bahkan karena terlalu keras hanya darah yang keluar dari mata mereka. Tentu saja itu bukan air mata karena berwarna merah. Air mata seperti suara Tuhan, begitu bening dan sejuk.

“Roh air mata itu harus kita cari, kalau perlu ke ujung dunia pun harus kita buru,” begitu akhirnya keputusan kepala desa itu dalam keputuasaannya. Begitulah, sejak hari itu banyak lelaki keluar dari desaku. Mereka memburu air mata ke seluruh pelosok negeri. Ada yang berhasil ada pula yang tidak. Ada yang pulang dengan membawa bergalon-galon air mata, ada yang mengirimkan lewat kilat khusus, tetapi ada juga yang pulang hampa sia-sia. Lelaki perantau pencetus gagasan penghapusan air mata bagi lelaki itu menghilang entah kemana. Konon, ada yang pernah melihat dia secara diam-diam menghilang ke atas gunung dalam penyesalannya karena telah membuat desanya menjadi berantakan. Tetapi ada juga rumor yang menyebutkan bahwa saat dia menyebarkan propaganda anti air mata itu sebenarnya dia telah disuruh oleh setan yang tidak pernah ingin melihat manusia bahagia. Entah benar atau tidak, yang jelas sekarang ini sangat jarang ditemui lelaki di desaku. Kebanyakan mereka telah menjadi pemburu air mata. Mereka akan sangat mudah ditemui di kota-kota besar maupun kecil. Dengan berbagai cara mereka akan membuat orang-orang menangis, yang paling sering dilakukan adalah menjadi pendongeng cerita-cerita sedih dimana ketika para penonton beramai-ramai menangis maka si pendongeng akan buru-buru mengambilnya dengan sponsnya dan dimasukkan kedalam botol air mineralnya.

Demikianlah, desaku yang tadinya begitu damai dan indah kini menjadi sunyi. Kesunyian yang begitu menyayat. Kesunyian yang melahirkan pekat. Seloka-seloka yang disenandungkan perempuan yang tinggal hanyalah senandung kesepian yang dibungkus rapat dengan kerinduan, karena para lelaki mereka menjadi pemburu air mata dan tidak tahu kapan mereka pulang. Benar-benar desa yang tidak bahagia. Mereka sering sekali merindukan waktu lalu, dimana air mata begitu mudah didapat, sangat bening seperti hati. Mereka begitu mendendam kepada lelaki pencetus ide penghapusan air mata. Dendam yang melahirkan bara di dada. Bara yang melahirkan air mata api.

Air mata menjadi makin langka. Air mata pada akhirnya melahirkan hanya lolongan. Air mata pada akhirnya menjadi absurd maknanya dan para pemburu air mata tak pernah lelah memburunya karena mereka benar-benar tahu bahwa hidup mereka akan kembali penuh dengan air mata. Ya, karena dari air mata akan melahirkan tawa.

Ubud, 20 Januari 2010
Untuk air mata-air mata yang menjadi guruku.

IBU PULANG

IBU PULANG

Kringg!! Itu dering telepon kedelapan. Aku tahu pasti siapa peneleponnya. Nenek.

Dia masih saja berusaha membujukku untuk pulang. Padahal jelas-jelas aku sudah mengatakan kepadanya kemarin bahwa Natal tahun ini aku tak pulang. Ya. Pulang. Rumah Nenek adalah rumah untuk pulang. Aku dibesarkan olehnya. Juga oleh ayahku. Tapi tidak oleh ibuku.

Ibu. Itulah alasan Nenek untuk menyuruhku pulang. ”Sudah lima tahun kamu ndak pulang Wid. Tahun ini kamu harus ada. Ibumu pulang,” kata Nenek kemarin lewat telepon. Aku tidak mengiyakan. Tidak pula menolak. Aku hanya meminta Nenek untuk meneleponku lagi keesokan harinya, dengan alasan aku harus meminta izin bosku untuk bisa cuti.

”Nenek akan telepon kamu besok sore ya. Jangan lupa,” tegas Nenek.

Nenek memang tipe orang yang suka mendesak. Kupikir-pikir sekarang, sifatnya itu memang aku perlukan. Jika tidak, mungkin aku akan mati. Atau akan jadi pengangguran di rumah. Atau pasrah saja jika ada orang yang melamarku. Atau jadi gila. Namun semua pilihan itu tidak terjadi padaku. Berkat Nenek. Dengan keras kepala, dia akan menyuruhku ini itu. Membangunkanku agar tak terlambat ke sekolah. Menyiapkan makanan untukku, hingga memilihkan kursus apa saja yang ketika tiba waktunya, ternyata memang berguna. Toh ketika aku sudah bisa hidup dengan kemampuanku sendiri, bahkan bisa dibilang berlebih, Nenek tak pernah sedikit pun meminta apa pun dariku. Dia hanya memintaku untuk pulang setiap Natal.

Dibanding Nenek, Ayah tak memiliki pengaruh apa pun buatku. Dia sama mati surinya denganku. Membeku. Diam. Hanya melihatku dengan matanya, tapi tidak dengan jiwanya. Dia sering hanya menghabiskan waktu di kamarnya, atau di kebun, atau di perpustakaan, atau di teras rumah. Aku sendiri tak tahu apa yang dikerjakannya. Di kemudian hari, kutemukan banyak sekali sketsa berisi sosok Ibu dan diriku di kamarnya.

Kata Nenek, Ayah menjadi pendiam seperti itu sejak kepergian Ibu. Saat aku berusia tiga tahun, Ibu pergi dari rumah tanpa pamit. Dia baru bilang keberadaannya setelah dua tahun kemudian. Sepucuk surat datang pada suatu sore. Dikirim dari Brooklyn, New York. Di surat itu, Ibu mengabarkan bahwa dia baik-baik saja dan lebih memilih tinggal di sana. Dia berjanji suatu saat akan pulang.

Janji itu ditepatinya saat ini. Ketika aku sudah berusia seperempat abad. Usia di mana aku sudah tak membutuhkannya lagi. Saat di mana aku sudah memiliki pendapat sendiri tentang konsep Ibu. Tentang perlu tidaknya memiliki seorang ibu dalam hidupku. Tentang tidak semua perempuan bisa dan harus menjadi Ibu.

Buatku, Nenek lebih dari seorang Ibu. Bahkan juga menjadi Ayah bagiku. Jadi aku merasa tak perlu untuk menemui Ibu. Tidak untuk Natal kali ini, maupun di hari yang lain. Namun Nenek begitu mendesakku untuk pulang. Lima Natal sebelumnya, aku tidak lagi pulang dan Nenek tidak berkata apa pun. Dia sudah sangat mengerti aku telah memiliki kehidupan sendiri. Justru karena aku lama tak pulang inilah, Nenek menggunakannya sebagai senjata untuk memaksaku.

”Nenek ndak masalah kamu sudah lama ndak pulang. Bahkan Nenek juga ndak pernah minta apa pun dari kamu kan? Sekarang Nenek cuma minta kamu pulang, tapi kamu masih mikir-mikir. Sudahlah. Jika kamu ndak mau pulang karena ibumu, setidaknya kamu

pulang buat Nenek,” pinta Nenek dengan nada kesal. Ketimbang memelas atau mengiba, Nenek memang lebih nyaman untuk bersikap

marah atau ngambek. Setahuku dia memang bukan tipe nenek-nenek tua yang lemah. Tak heran jika dia masih bisa mengurus rumah

sendiri di usia hampir 80 tahun hingga dua tahun lalu, kusewa seorang pembantu untuk membantunya. Usul yang ditolaknya mentah-mentah, namun Nenek berhasil kuancam untuk tidak mengusirnya.

”Dia sudah tidak punya rumah lagi, Nek. Kalau Nenek mengusirnya, dia bisa bunuh diri,” kataku.

Sesuai dengan iman Kristianinya yang begitu kuat, Nenek sangat membenci bunuh diri. Karena itulah dia mati-matian menjagaku dan Ayah untuk tidak mengakhiri hidup dengan tangan sendiri.

Pikiran tentang mengakhiri hidup sebenarnya tak pernah terlintas di benakku. Tidak dengan Ayah. Aku tahu dia sudah tak ada

keinginan hidup tanpa Ibu di sisinya. Namun setelah bertahun-tahun kemudian, aku jadi berpikir mungkin karena kesetiaannya

itulah Ibu pergi meninggalkannya.

***

Akhirnya aku memutuskan untuk pulang tepat pada malam Natal. Nenek terlihat kesal karena aku melewatkan misa malam Natal di

gereja. Aku memang sengaja karena aku tidak berminat bertemu dengan orang-orang yang mungkin masih mengenalku jika aku misa

bersama Nenek di gereja kota kecil ini. ”Padahal tadi aku bertemu dengan teman-teman misdinarmu dulu, lho. Mereka sudah

berkeluarga dan punya anak,” kata Nenek sambil menata piring di meja untuk makan malam. Aku hanya mengangguk malas.

Sejak aku tiba di rumah Nenek, aku memilih diam. Apalagi ketika bertemu Ibu. Begitu aku memasuki rumah, Nenek langsung

menarikku ke ruang makan dan memperkenalkan seorang perempuan yang sedang duduk di kursi makan. Begitu melihatku, dia

segera berdiri.

”Wid, apa kabar?” ujarnya sambil mengulurkan tangannya, mengajakku bersalaman. Kedua telapak tangan kami berjabatan.

Seperti sepasang asing yang baru akan memperkenalkan diri.

”Baik. Bagaimana perjalanan Ibu?” tanyaku sambil menarik kursi di dekatnya.

Dan mengalirlah pembicaraan di antara kami bertiga: aku, Ibu, dan Nenek.

Ibu seorang perempuan yang tenang. Cara bicaranya teratur. Senyumnya tipis dan seperlunya. Rambutnya panjang sebahu dengan

sebagian uban di beberapa tempat. Tubuhnya kurus. Namun terlihat kuat dan kokoh. Meski kerut di beberapa bagian di wajahnya

jelas terlihat, Ibu terlihat masih memperlihatkan sisa-sisa kecantikannya di masa lalu. Bentuk wajahnya oval dengan alis

yang tebal dan hidung yang mancung. Sorot matanya tajam namun teduh.

Pembicaraan kami lebih banyak tentang kehidupan Ibu di sana yang bekerja di sebuah galeri seni. Kemudian tentang

penerbangan yang melelahkan dan rasa kangennya akan masakan Indonesia. Di Brooklyn, Ibu jarang masak. Tapi dia tahu

tempat-tempat di New York yang menjual bumbu-bumbu Indonesia. Perbincangan kami terhenti karena Nenek sudah mengantuk. Kami

pun berpisah dan menuju kamar masing-masing. Malam itu, Ibu tidur di kamar Ayah.

Tengah malam aku terbangun. Entah mimpi apa yang membangunkanku, aku sudah lupa. Yang jelas aku terbangun dengan perasaan

hampa. Kuputuskan keluar kamar untuk mengambil air minum. Tenggorokanku terasa kering. Di dapur, aku melihat setitik cahaya

di teras taman belakang. Aku bergegas ke sana dan melihat Ibu tengah duduk sambil mengisap rokok.

”Selamat Natal, Wid,” ujar Ibu sambil menawarkan rokok kepadaku.

Aku menggeleng. ”Selamat Natal juga, Bu.”

”Tak bisa tidur atau terbangun?” tanyanya.

”Terbangun.”

Agak lama keheningan menguasai kami berdua. Akhirnya Ibu yang pertama mengeluarkan suara saat rokoknya habis.

”Bagaimana suamiku meninggal saat itu?”

”Ayah meninggal saat tidur. Aku dan Nenek tak mengetahuinya sampai pagi, ketika Nenek hendak membangunkan dia.”

”Begitu ya. Tahukah kamu dari dulu dia menginginkan kematian seperti itu. Kematian yang mengendap-endap. Bak pencuri. Tak

meninggalkan tanda apa pun. Tak merepotkan siapa pun,” kata Ibu sambil memandang kegelapan.

”Kenapa Ibu tak pulang waktu Ayah meninggal?”

”Aku tak cukup kuat melihatnya tak bisa lagi bergerak, tersenyum, atau sekadar menggodaku dengan cubitan di pipiku. Tahukah

kamu, dia dulu sangat suka duduk di sini. Sambil melukis atau membersihkan rumput. Sementara aku melihatnya dari balik

jendela dapur. Begitu kamu lahir, dia tak lagi melukis. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mengajakmu bermain di

sini. Kamu didudukkan di rumput, dan kemudian dia akan merangkai berbagai macam bunga untuk dijadikan mahkota di kepalamu,”

kata Ibu.

”Sepertinya indah dan menyenangkan. Lantas kenapa Ibu pergi?” akhirnya aku berhasil mempertanyakan hal yang dari dulu

membuatku geram.

”Aku belum siap memiliki kamu. Sementara dia menginginkanmu begitu kami menikah. Ketika akhirnya aku hamil, dia semakin

membuatku sesak dengan perhatian dan cintanya yang begitu sempurna. Membuatku merasa bersalah dari waktu ke waktu karena

aku tak pernah bisa mencintainya sebesar itu. Saat kamu lahir, aku tahu dia akan bisa mencintaimu sebesar dia mencintaiku.

Kujadikan dirimu sebagai penggantiku.”

”Ayah tak pernah bisa menjadikan siapa pun sebagai pengganti Ibu. Termasuk diriku.”

”Aku tahu. Perpisahan yang sia-sia,” ujar Ibu sambil beranjak dari duduknya. ”Aku sudah mengantuk, Wid. Aku tidur dulu ya,” pamit Ibu.

Aku mengangguk dan memutuskan tetap duduk sambil menunggu fajar. Dalam kegelapan, aku membayangkan kehidupanku jika Ibu tak

pernah pergi. Mungkin Ayah tetap hidup dan setiap tahun aku akan pulang untuk merayakan Natal. Kemudian kami semua akan

berkumpul di dekat pohon natal sambil saling bertukar kado. Atau seperti di film-film Hollywood, aku, Ibu, dan Nenek akan

memasak hidangan natal bersama. Mungkin juga akan muncul pertengkaran layaknya sebuah keluarga, ketika aku memperkenalkan

calon suami saat Natal tiba dan orangtuaku tidak menyetujuinya. Bahkan bukan tidak mungkin aku sudah memberikan cucu untuk

Ayah dan Ibu.

Dua hari setelah Natal, Ibu pulang. Aku tetap tinggal di rumah Nenek sampai Tahun Baru. Setelah kepergiannya, aku akhirnya

menyadari bahwa Ibu pergi karena tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Kesimpulan ini kudapatkan dari cerita Nenek dan

hadiah Natal dari Ibu. Sewaktu kubuka, hadiah itu berisi album foto yang memasang foto-fotoku sewaktu kecil. Aku belum

pernah melihat foto-foto itu.

Sembari melihat isi album foto itu, Nenek akhirnya bercerita bahwa Ayah begitu menginginkan anak dalam pernikahannya dengan

Ibu. Aku lahir lima tahun kemudian. Namun kehadiranku tak bisa menghalangi kepergian Ibu. Bagi Ayah, aku adalah hadiah

dalam hidupnya. Sementara bagi Ibu, kehadiranku adalah memorabilia ketidaksetiaannya. Kini aku menyadari mengapa wajahku

tidak sama dengan Ayah maupun Ibu. Di halaman terakhir album foto itu, kulihat diriku sewaktu kecil berada di sebuah taman.

Aku dipangku Ibu yang sedang duduk bersama seorang lelaki dengan sorot mata dan senyum yang sama denganku.

Jakarta, Desember 2010 Fransisca Dewi Ria Utari