Sejatinya
doa adalah nafas hidup orang beriman. Kita meyakini bahwa segala sesuatu tidak
bisa kita lakukan dengan kekuatan sendiri. Kita memercayai bahwa campur tangan
Tuhan mutlak agar semua berlangsung dengan baik dan sesuai kehendak-Nya. Karena
itu, kita tidak boleh menyembunyikan identitas kristiani kita. Doa yang kita
ucapkan tidak boleh menjadi doa umum yang sifatnya netral dan abstrak ketika
kita berdoa di tengah orang yang berbeda keyakinan.
bulir-bulir pemikiran atas Firman Allah yang hidup dan aplikasinya dalam hidup berjemaat dalam ruang dan waktu agar siapapun diperkaya dan bertumbuh terus dalam kasih Kristus
Sponsors
Theme Support
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Jumat, 24 Juli 2015
BERDOA DALAM NAMA YESUS#16
Relasi Intim
BERDOA TAK JEMU#15
Beragam Pengertian
Alkitab
mencatat bahwa doa menjadi soal penting dalam hidup manusia. Setelah lahir Enos
bagi Set, maka “waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN” (Kejadian 4:26).
Doa dinaikkan saat manusia menghadapi pencobaan dan musibah. Atau, ketika
mereka diperhadapkan dengan kesukaran dan masalah. Tuhan Yesus menegaskan dalam
pengajarannya, bahwa kita “harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu”. (Lukas
18:1)
Kamis, 16 Juli 2015
KUASA DOA DALAM DIRI PELAYAN KRISTUS#10
Contoh Alkitabiah
Pelayanan Firman dan doa bukan dua kegiatan yang
dapat dipisahkan dalam diri para pelayan Kristus. Tuhan Yesus secara pribadi
memiliki jam doa khusus di pagi hari sebelum melaksanakan tugas pelayanan (Markus
1:35-38). Tuhan Yesus mengajarkan bahwa berdoa bukan sikap sombong rohani
tetapi sikap ketergantungan mutlak pada pada belas kasihan Allah yang menjawab doa
(Matius 21:22 Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan
penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.") Menjelang penderitaan di
kayu salib, Tuhan Yesus berulang-ulang berdoa di Taman Getsemani agar kehendak
Allah yang terjadi (Matius 26:39). Setelah
Yesus terangkat ke Sorga, murid-murid-Nya bersehati dalam doa dan menerima
karunia Roh Kudus yang memampukan mereka melayani firman Allah (Kisah Para
Rasul 1:14).
Minggu, 31 Juli 2011
Puasa dan pelaksanaannya
Cara memulai dan melaksanakan puasa akan sangat menentukan keberhasilan Anda. Dengan mengikuti tujuh langkah pokok berikut ini, Anda akan membuat waktu Anda bersama Tuhan menjadi lebih berarti dan bermanfaat secara rohani.
LANGKAH 1: Tentukan Tujuan Anda
Mengapa Anda berpuasa?
Label:
Artikel Menarik,
Doa,
Puasa
Sabtu, 02 Juli 2011
Mengapa Kita Berdoa Sebelum Makan?
Perjamuan terakhir yang dibagikan oleh Yesus bersama murid-murid-Nya adalah perjamuan Paskah. Walaupun sebagian pakar Perjanjian Baru mempertanyakan hal ini, bukti-bukti yang terdapat di dalam Matius, Markus dan Lukas sangatlah meyakinkan.
Sebagai contoh, perhatikan bahwa ketiga Injil sinoptik memakai sebuah istilah Ibrani yang lazim ditemukan dalam literatur rabi-rabi Yahudi kuno: "eat the Passover" (Mat 26:17; Mar. 14:12; Luk. 22:11), yang merupakan istilah yang mengacu pada Jamuan Paskah (Seder), di mana jamuan tersebut mencakup acara makan domba Paskah, "Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita" (Luk 22:14).
Pada perjamuan tersebut, Yesus menyampaikan ucapan yang nantinya dibakukan di dalam lingkungan umat Kristen: "Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat ke atasnya, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata, "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku." (Mat 26:26)
Ada tiga pertanyaan penting yang bisa diajukan dari kutipan ayat ini:
1. Apa dasar alkitabiah bagi tindakan Yesus yang mengucapkan doa berkat sebelum makan?
2. Mengapa kata it (nya) dicetak miring dalam terjemahan versi King James?
3. Apa pengaruh peristiwa ini terhadap kebiasaan umat Kristen yang berdoa sebelum makan?
Pertama, jika kita telusuri Alkitab yang dipakai di zaman Yesus (yakni Perjanjian Lama berbahasa Ibrani), kita tidak akan menemukan satupun perintah untuk berdoa sebelum makan. Rujukan yang paling mendekati adalah yang terdapat di dalam Ulangan 8:10: "Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu".
Perhatikan bahwa, ternyata, perintah itu menyuruh kita mengucapkan syukur setelah makan, bukan sebelumnya - dan ini adalah tradisi yang masih dijalankan oleh umat Yahudi yang taat beribadah, yakni dalam doa Birkat Hamazon (Ucapan Syukur Setelah Makan)
Sebenarnya, dasar tindakan Yesus mengucapkan syukur sebelum makan itu bukan dari dalam Alkitab, melainkan dari tradisi. Dia menghormati tradisi yang diawali oleh para rabi dan kemudian dipelihara oleh orang-orang Farisi. Pertimbangan mereka adalah: Kita memang diperintahkan untuk mengucapkan syukur setelah makan, tapi mari kita melangkah lebih dari perintah tertulis di dalam hukum Taurat di dalam menyatakan rasa terima kasih kita, mari kita ucapkan syukur sebelum makan.
Kedua, perhatikan bahwa doa syukur yang diperintahkan itu ditujukan kepada Allah dan bukan kepada makanan itu sendiri. Fokus kepada Allah dilestarikan dalam dalam doa sebelum makan [di kalangan Farisi]: "Terpujilah Engkau Tuhan, Allah kami, Raja alam semesta… yang memberikan roti dari bumi."
Para penerjemah Alkitab dari Inggris di abad ke-17 tidak terbiasa dengan tradisi-tradisi Yahudi abad pertama. Dengan mengambil tradisi sakramen dari Gereja Inggris dan Katholik Roma, mereka menganggap bahwa Yesus mengambil roti lalu memberkati roti itu, mengambil cawan dan memberkati cawan itu juga.
Kata it (nya) dicetak miring di dalam Matius 26:26 di versi KJV karena kata tersebut tidak terdapat di dalam naskah Yunaninya, melainkan hanya merupakan hasil pengembangan dari para penerjemah. Terjemahan harfiah dari ayat tersebut berbunyi, "Yesus mengambil roti dan mengucapkan berkat, Dia memecahkan roti itu, dan Dia membagikan kepada para murid." Naskah Yunani ini menunjukkan tradisi otentik Yahudi yang dijalankan oleh Yesus - mengucapkan berkat atau syukur kepada Tuhan atas makanan yang telah Dia tumbuhkan dari bumi yang subur.
Kita bisa melihat pola ini tersebar di sejumlah bagian dalam Perjanjian Baru. Sebagai contoh, Kisah 27:35: Sesudah berkata demikian, ia [Paulus] mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah di hadapan semua mereka, memecah-mecahkannya, lalu mulai makan. (Perhatikan bahwa Paulus mengucap syukur kepada Tuhan dan bukan memberkati makanan itu)
Terakhir. perspektif orang Yahudi yang tertuang di dalam Perjanjian Baru juga bisa menjadi petunjuk bagi kita. Saat kita berdoa sebelum makan, sebenarnya kita sedang mengikuti tradisi Yahudi (bahkan tradisi orang Farisi) yang diwariskan kepada kita oleh Yesus dari Nazareth.
Sebagaimana yang digambarkan dengan sangat baik di dalam tradisi Yahudi, marilah kita menjadi orang yang memusatkan perhatian kepada Allah dan Raja kita di dalam setiap perbuatan kita. Bahkan para rabi menganjurkan kita untuk mencari setidaknya seratus kesempatan per hari untuk mengucap syukur kepada Allah sebagai Tuhan dan Raja kita. Pola pikir ini tercermin dalam seruan rasul Paulus: "Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita." (Kolose 3:17)
Dalam kebiasaan kita mengucapkan doa syukur sebelum makan, marilah kita memusatkan perhatian kepada Sang Sumber, bukannya kepada makanan. Hendaklah kita tidak 'memberkati makanan' melainkan mengucapkan syukur kepada Tuhan' yang telah memenuhi setiap kebutuhan kita. Dengan demikian, kita menguduskan makanan tersebut dan mewujudkan suatu tindakan yang lebih rohani di bawah kemurahan Sang Raja Alam Semesta.
(Dwight A. Pryor adalah Pendiri dan Presiden Center for Judaic-Christian Studies di Dayton, Ohio. Dia juga salah satu pendiri Jerusalem School of Synoptic Research di Israel. Ketika sedang belajar di Israel, beliau tiba pada kesadaran betapa penting dan perlunya memahami Kekristenan lewat akar dan dimensi Ibraninya.)
http://www.cahayapengharapan.org/artikel/texts/mengapa_kita_berdoa_sebelum_makan.htm
Sabtu, 21 Mei 2011
Doa Lima Jari
1. Jari jempol adalah jari yang terdekat dengan diri kita. Jadi mulailah berdoa bagi mereka yang paling dekat dengan dirimu. Berdoa buat orang yang kita kasihi, seperti kata C.S. Lewis, adalah 'tugas yang manis'.
2. Jari yang berikut adalah jari telunjuk. Berdoalah buat mereka yang mengajar, memerintah dan menyelamatkan. Mereka adalah guru, dokter dan pelayan Tuhan. Mereka butuh dukungan dan hikmat dalam memerintah orang lain dengan petunjuk benar.
3. Jari berikut adalah jari yang tertinggi. Kita diingatkan berdoa bagi pemimpin kita seperti presiden, pemimpin bisnis dan industri serta pengambil kebijakan.Mereka ini yang membentuk bangsa kita dan memandu opini publik. Mereka butuh bimbingan Tuhan dalam tugasnya.
4. Jari keempat adalah jari manis. Ini jari yang paling lemah. Kita diingatkan berdoa bagi mereka yang lemah, dalam kesusahan dan penderitaan. Mereka butuh didoakan siang dan malam.
5. Yang terakhir adalah jari terkecil dari semua jari. Kita diingatkan menempatkan diri kita dalam relasi dengan Allah dan sesama. Injil mengatakan "yang terkecil di antara kamu adalah yang terbesar. Jari kelingking mengingatkan kita untuk juga mendoakan diri kita sendiri
Dengan mendoakan empat kelompok yang lain, kita dapat menempatkan kebutuhan kita dalam perspektif yang benar dan kita mampu berdoa dengan efektif bagi diri sendiri
Disadur dari http://www.creativeyouthideas.com/blog/
childrens_sermon/five_finger_prayer.html
Selasa, 14 Desember 2010
Refleksi
Resep Doa Mujarab
Sudah lazim kalau waktu doa syafaat, warga jemaat bergegas keluar dari kursinya. Ada yang pergi ke tolilet, yang lain beli gula-gula atau minum dan yang sisanya sibuk membakar rokoknya. Pendeta sudah mendengar cerita bahwa perilaku sebagian jemaat itu mengganggu yang lain. Mereka tidak bisa buat apa-apa, hanya prihatin. Saat hari Minggu, pendeta memulai khotbahnyanya berdasarkan Matius 6:22 bahwa mata adalah pelita tubuh yang harus digunakan dengan baik.
Saat doa syafaat dimulai sampai selesai, tidak ada seorang warga jemaat pun bangun dari tempatnya. Setelah selesai ibadah, ada yang bertanya apa resepnya pendeta sehingga doa syafaat berlangsung tertib. Ada yang menjawab: pendeta penuh roh kudus, jemaat sudah bertobat. Seorang bapak pecandu nikotin berkata: Lha bapak pendeta berdoa tidak tutup mata. Jadi kami pun tidak bisa keluar karena diawasi mata pendeta. Siapa berani keluar?!
Pesan: Doa adalah percakapan iman dengan Allah. Haruskah dalam gereja diperlukan CCTV untuk mengawasi mereka yang selalu punya alasan untuk keluar saat doa syafaat?
Langganan:
Postingan (Atom)



